Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

IHSG Ambruk Imbas Pengumuman MSCI, Panic Selling Landa Pasar

IHSG ditutup anjlok 7,35 persen ke 8.320,55 pada akhir perdagangan Rabu (28/1). Perdagangan sempat dibekukan sementara saat IHSG anjlok 8 persen.

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan Rabu (28/1).

Hal itu dipicu sentimen negatif dari kebijakan pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Dalam pengumumannya, MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. 

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menilai, pengumuman tersebut memicu aksi panic selling di pasar modal domestik.

“Jadi hasil daripada apa yang terjadi hari ini memang menurut saya panic selling,” ujarnya, ditemui di Gedung BEI, Jakarta.

Adapun, IHSG ditutup anjlok 659,67 poin atau 7,35 persen ke 8.320,55 pada akhir perdagangan Rabu (28/1). Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan, di mana IHSG dibuka di level 8.393,51. 

Sistem perdagangan Jakarta Automated Trading System (JATS) BEI sempat dibekukan sementara alias trading halt saat IHSG anjlok 8 persen atau turun 718,441 poin ke level 8.261,78 pukul 13.42.

Perdagangan saham kembali dibuka pada pukul 14.13, namun IHSG tidak menunjukkan pemulihan. Tekanan jual justru berlanjut. 

Sesaat setelah perdagangan dibuka, IHSG turun 742,58 poin atau 8,27 persen ke level 8.237,64, tetapi sedikit berbalik arah menjelang penutupan. 

Iman menuturkan, tekanan pasar muncul dari dua isu utama berkait dengan pengumuman MSCI. Isu pertama mengenai pembekuan rebalancing indeks MSCI pada Februari 2026. 

Kondisi itu membuat tidak ada penambahan maupun pengurangan saham Indonesia di indeks MSCI pada periode tersebut.

“Panic selling karena dua hal yang disampaikan, pertama untuk di bulan Februari rebalancing di freeze," bebernya. 

"Jadi kalau kami terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” sambungnya. 

Iman menyatakan, isu kedua dinilai lebih sensitif bagi pelaku pasar. Kekhawatiran muncul berkait dengan data free float yang diminta MSCI. 

Data yang diajukan otoritas pasar dinilai belum memenuhi kebutuhan MSCI. Persepsi tersebut berkembang cepat di pasar dan memicu aksi jual secara luas. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved