Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Dibayangi Aksi Gelombang Jual Asing, IHSG Masih Rawan Koreksi

Sentimen negatif dari sejumlah lembaga global seperti Goldman Sachs, UBS, Moody’s, hingga MSCI jelas menjadi beban psikologis bagi pelaku pasar. 

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Seorang karyawan melintasi papan bursa saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, baru-baru ini 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jatuh ke bawah level 8.000. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (6/2), IHSG ditutup terkoreksi 2,08 persen ke posisi 7.935,26. 

Dalam sepekan, IHSG anjlok hingga 4,73 persen, disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing di seluruh pasar yang mencapai Rp 3,62 triliun.

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana meramal pergerakan bursa saham domestik masih berada dalam tekanan dan volatilitas yang tinggi untuk perdagangan pekan ini, yakni sepanjang Senin (9/2) hingga Jumat (13/2).

Menurut dia, sentimen negatif dari sejumlah lembaga global seperti Goldman Sachs, UBS, Moody’s, hingga MSCI jelas menjadi beban psikologis bagi pelaku pasar. 

"Penurunan peringkat IHSG menjadi underweight oleh Goldman Sachs, disusul UBS yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia ke level netral, memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun," katanya, kepada Kontan, Minggu (8/2).

Hendra menyebut, tekanan itu semakin terasa setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun status investment grade masih dipertahankan. Artinya, risiko memang belum terjadi, tetapi arah risikonya kini dinilai memburuk.

Di tengah kondisi tersebut, dia menambahkan, IHSG berpotensi kembali mengalami koreksi terbatas dalam jangka pendek, terutama jika belum ada katalis positif baru yang mampu memulihkan kepercayaan investor. 

Secara teknikal, Hendra menyatakan, area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 7.850 hingga 7.900. Jika level itu ditembus, maka tekanan bisa berlanjut ke area psikologis berikutnya. 

Sementara, level resistance terdekat berada di kisaran 8.000 hingga 8.050, yang berpotensi menjadi area jual selama sentimen global dan domestik belum membaik. "Dengan kata lain, pergerakan indeks masih cenderung sideways dengan bisa melemah," ucapnya.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto mengamini volatilitas pasar yang masih akan tinggi. Tekanan juga datang dari pergerakan nilai tukar setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia.

Ia berujar, sentimen yang dapat mendorong investor asing kembali ke pasar domestik bergantung pada langkah dan komunikasi kebijakan pemerintah.

"Terutama upaya perbaikan atas berbagai isu yang memicu penurunan kepercayaan investor asing, termasuk risiko fiskal, independensi Bank Indonesia, serta peningkatan transparansi dan keterbukaan informasi emiten sesuai tuntutan MSCI," bebernya.

Dari sisi aliran dana asing, Hendra berpandangan, potensi net sell masih cukup besar dalam jangka pendek hingga menengah.

Investor global cenderung bersikap wait and see terhadap Indonesia, terutama setelah muncul kekhawatiran terkait ruang fiskal yang semakin sempit pada APBN 2026. 

Menurut dia, peringatan dari S&P Global Ratings mengenai potensi penurunan peringkat utang jika kondisi fiskal melemah juga menjadi faktor tambahan yang membuat investor asing lebih berhati-hati. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved