Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Bisnis

Perang Iran-AS Pecah! IHSG Terancam Anjlok Senin Besok, Emiten Energi Siap Panen Cuan?

IHSG diprediksi akan dibuka melemah tajam (gap down) setelah perang Iran dan Amerika pada hari Senin (2/3/2026) besok. 

Tayang:
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
Seseorang tengah membuka aplikasi memantau indeks harga saham gabungan (IHSG), Kamis (7/10/2021). 

Ringkasan Berita:
  • IHSG diprediksi akan dibuka melemah tajam antara -1,5 persen hingga -3,0 % pada Senin (2/3/2026) akibat sentimen negatif perang AS-Iran yang memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi global.
  • Sektor emas dan energi menjadi peluang emas karena kenaikan harga komoditas dunia, sementara sektor perbankan, manufaktur, dan logistik menjadi risiko tinggi.
  • Investor disarankan untuk menerapkan strategi wait and see, menjaga ketersediaan tunai (cash), dan tidak terburu-buru melakukan average down..

 

TRIBUNJATENG.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan dibuka melemah tajam (gap down) setelah perang Iran dan Amerika dengan rentang penurunan antara -1,5 % hingga -3,0 % , pada hari Senin (2/3/2026) besok. 

Investor global cenderung akan melakukan flight to quality (memindahkan aset ke instrumen aman).

Baca juga: Sosok Belvin Tannadi, Influencer Jutaan Followers yang Kena Denda Rp5,5 Miliar Kasus Goreng Saham

Sentimen Negatif: Kenaikan biaya logistik global, potensi inflasi akibat harga minyak, dan keluarnya dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Level Support: Perlu diwaspadai level psikologis di bawah angka penutupan sebelumnya.

Jika tekanan jual masif, IHSG mungkin akan menguji area support kuat di bawah 7.000 (asumsi posisi saat ini).
 
Emiten "Peluang Emas" (Safe Haven & Beneficiaries)

Dalam kondisi perang, sektor energi dan emas biasanya menjadi primadona karena harganya yang melambung di pasar internasional.

  • Sektor Emas (Safe Haven)
    ANTM, MDKA, BRMS

Harga emas dunia biasanya meroket sebagai lindung nilai (hedging) saat terjadi perang besar.

  • Sektor Energi (Minyak & Gas)
    MEDC, AKRA, ENRG

Selat Hormuz (Iran) adalah jalur minyak dunia. Perang di sana akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara drastis.

  • Sektor Komoditas Energi (Batu Bara)

Sektor Komoditas Energi (Batu Bara)
ADRO, PTBA, ITMG

Jika suplai gas atau minyak terganggu, dunia akan beralih kembali ke batu bara sebagai alternatif energi murah, yang mengerek harga jual.

 

Emiten yang Harus Dihindari (High Risk)

Sektor yang sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar Rupiah dan harga BBM akan sangat tertekan.

  • Sektor Penerbangan & Logistik (Contoh: GIAA, TMAS, ASSA): Biaya bahan bakar pesawat (avtur) dan kapal akan melonjak tajam, menggerus margin keuntungan secara signifikan.
  • Sektor Manufaktur dengan Bahan Baku Impor (Contoh: UNVR, ICBP): Pelemahan Rupiah terhadap USD akibat perang akan membuat biaya impor bahan baku membengkak.
  • Perbankan Big Caps (Contoh: BBCA, BBRI, BMRI): Meskipun fundamentalnya kuat, saham-saham ini paling sering dijual oleh investor asing untuk mengamankan cash dalam jumlah besar (capital outflow).
  • Sektor Properti & Otomatis (Contoh: BSDE, ASII): Potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi akibat perang akan memukul daya beli masyarakat pada barang tersier.

Baca juga: IHSG Ambruk Lagi, Pasar Saham Tertekan Penurunan Peringkat Utang RI dari Moodys

Strategi Investasi:

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved