Berita Bisnis
Perang Iran-AS Pecah! IHSG Terancam Anjlok Senin Besok, Emiten Energi Siap Panen Cuan?
IHSG diprediksi akan dibuka melemah tajam (gap down) setelah perang Iran dan Amerika pada hari Senin (2/3/2026) besok.
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
Ringkasan Berita:
- IHSG diprediksi akan dibuka melemah tajam antara -1,5 persen hingga -3,0 % pada Senin (2/3/2026) akibat sentimen negatif perang AS-Iran yang memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi global.
- Sektor emas dan energi menjadi peluang emas karena kenaikan harga komoditas dunia, sementara sektor perbankan, manufaktur, dan logistik menjadi risiko tinggi.
- Investor disarankan untuk menerapkan strategi wait and see, menjaga ketersediaan tunai (cash), dan tidak terburu-buru melakukan average down..
TRIBUNJATENG.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan dibuka melemah tajam (gap down) setelah perang Iran dan Amerika dengan rentang penurunan antara -1,5 % hingga -3,0 % , pada hari Senin (2/3/2026) besok.
Investor global cenderung akan melakukan flight to quality (memindahkan aset ke instrumen aman).
Baca juga: Sosok Belvin Tannadi, Influencer Jutaan Followers yang Kena Denda Rp5,5 Miliar Kasus Goreng Saham
Sentimen Negatif: Kenaikan biaya logistik global, potensi inflasi akibat harga minyak, dan keluarnya dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Level Support: Perlu diwaspadai level psikologis di bawah angka penutupan sebelumnya.
Jika tekanan jual masif, IHSG mungkin akan menguji area support kuat di bawah 7.000 (asumsi posisi saat ini).
Emiten "Peluang Emas" (Safe Haven & Beneficiaries)
Dalam kondisi perang, sektor energi dan emas biasanya menjadi primadona karena harganya yang melambung di pasar internasional.
- Sektor Emas (Safe Haven)
ANTM, MDKA, BRMS
Harga emas dunia biasanya meroket sebagai lindung nilai (hedging) saat terjadi perang besar.
- Sektor Energi (Minyak & Gas)
MEDC, AKRA, ENRG
Selat Hormuz (Iran) adalah jalur minyak dunia. Perang di sana akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara drastis.
- Sektor Komoditas Energi (Batu Bara)
Sektor Komoditas Energi (Batu Bara)
ADRO, PTBA, ITMG
Jika suplai gas atau minyak terganggu, dunia akan beralih kembali ke batu bara sebagai alternatif energi murah, yang mengerek harga jual.
Emiten yang Harus Dihindari (High Risk)
Sektor yang sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar Rupiah dan harga BBM akan sangat tertekan.
- Sektor Penerbangan & Logistik (Contoh: GIAA, TMAS, ASSA): Biaya bahan bakar pesawat (avtur) dan kapal akan melonjak tajam, menggerus margin keuntungan secara signifikan.
- Sektor Manufaktur dengan Bahan Baku Impor (Contoh: UNVR, ICBP): Pelemahan Rupiah terhadap USD akibat perang akan membuat biaya impor bahan baku membengkak.
- Perbankan Big Caps (Contoh: BBCA, BBRI, BMRI): Meskipun fundamentalnya kuat, saham-saham ini paling sering dijual oleh investor asing untuk mengamankan cash dalam jumlah besar (capital outflow).
- Sektor Properti & Otomatis (Contoh: BSDE, ASII): Potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi akibat perang akan memukul daya beli masyarakat pada barang tersier.
Baca juga: IHSG Ambruk Lagi, Pasar Saham Tertekan Penurunan Peringkat Utang RI dari Moodys
Strategi Investasi:
| Tak Takut Pensiun, Ratidjo Sukses Besarkan Jejamuran yang Dimulai saat Purna Tugas |
|
|---|
| Jangan Tergiur Bunga Tinggi! Ini 5 Langkah Ampuh Agar Tak Tertipu Investasi Bodong |
|
|---|
| Jangan Sampai Kecolongan! Ini Strategi Jitu Ekspansi Waralaba Tanpa Takut Ditipu Rekan Bisnis |
|
|---|
| Rekor Baru! Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp679 Triliun, Tertinggi dalam 5 Tahun |
|
|---|
| Jogja Print Expo 2026 Dibuka, UMKM Jadi Tulang Punggung Industri Grafika di Tengah Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/indeks-harga-saham-gabungan-1.jpg)