Tribun Jateng Hari Ini
Rebound Lagi, Prospek Harga Emas Masih Bullish
Harga emas mulai berbalik arah dengan kenaikan 1,49 persen pada Selasa (24/3), dan kembali menguat 1,90 persen pada Rabu (25/3).
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Harga emas dunia mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat tertekan sepanjang pekan lalu dengan prospek masih cenderung positif dalam jangka menengah.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas tercatat turun tajam selama periode 18-23 Maret 2026. Penurunan harian mencapai 3,74 persen pada Rabu (18/3), disusul koreksi 3,51 persen pada Kamis (19/3), dan 3,48 persen hingga penutupan Jumat (20/3). Tekanan berlanjut pada Senin (23/3) dengan pelemahan 1,79 persen.
Namun, harga emas mulai berbalik arah dengan kenaikan 1,49 persen pada Selasa (24/3), dan kembali menguat 1,90 persen pada Rabu (25/3). Hingga Rabu (25/3), pukul 15.58 WIB, harga emas berada di level 4.557 dolar AS per ons troi.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai, harga emas sedang berada dalam fase pemulihan yang sangat agresif setelah mengalami koreksi sehat pada pertengahan Maret.
"Kenaikan 1,90 persen dalam satu hari menandakan adanya akumulasi besar (dominasi buyer) yang berhasil mematahkan tren penurunan singkat sebelumnya," katanya, kepada Kontan, Rabu (25/3).
Ia memproyeksikan, dalam sepekan ke depan harga emas akan bergerak di rentang support 4.000 dolar AS per ons troi dan resistance 4.740 dolar AS per ons troi.
Jika level itu dapat ditembus, Wahyu mengatakan, maka support & resist berikutnya adalah 3.880 dolar AS per ons troi dan 5.000 dolar AS per ons troi.
Menurut dia, prospek emas pada kuartal II/2026 masih cenderung bullish, didorong oleh ekspektasi perubahan arah kebijakan moneter The Fed.
"Pasar mulai memperhitungkan pemangkasan suku bunga yang biasanya menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan harga emas karena menurunnya biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa bunga," bebernya.
Selain itu, Wahyu menyatakan, ketidakpastian geopolitik serta berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral, terutama di Asia, dinilai akan menjadi penopang harga.
Ia memproyeksi harga emas pada kuartal II berada di kisaran support 3.880 dolar AS per ons troi dan resistance 5.000 dolar AS per ons troi.
"Apabila level itu dapat ditembus, maka support & resist berikutnya adalah 4.000 dolar AS per ons troi dan 5.600 dolar AS per ons troi.
Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, kenaikan harga emas dalam 2 hari terakhir ini belum cukup kuat untuk mengubah tren.
Ia juga mengingatkan harga emas pada kuartal II akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik Timur Tengah.
Ia menyebut, ketidakpastian masih tinggi seiring dengan belum dibukanya kembali Selat Hormuz dan harga minyak yang tetap bertahan di level tinggi.
Jika Selat Hormuz masih ditutup dan harga minyak naik, ia memproyeksi, harga emas berpotensi turun dengan support 3.800 dolar AS per ons troi. Namun, jika terjadi deeskalasi, maka harga emas bisa kembali di atas 5.000 dolar AS per ons troi.
"Secara teknis, harga emas masih bearish untuk short dan medium term, walau untuk jangka panjang masih bullish. Untuk jangka pendek, harga emas diperkirakan masih berfluktuasi di level 4.100-4.800 dolar AS per ons troi," ucapnya.
Sementara, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo. Ia menilai, harga emas masih berpotensi terkoreksi, terutama jika Amerika Serikat-Israel dengan Iran mencapai kesepakatan damai.
"Harga bisa menguji kembali level psikologis di bawah 4.000 dolar AS, karena fokus pasar akan beralih sepenuhnya ke data ekonomi dan kebijakan suku bunga Fed yang mulai melandai," tukasnya.
Sebaliknya, apabila eskalasi berlanjut, ia berujar, harga emas berpotensi memecahkan rekor tertinggi karena meningkatnya permintaan aset lindung nilai. (Kontan/Alya Fathinah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251229_emas-antam-2.jpg)