Bisnis
Askrindo Catat Premi Awal 2026 Tumbuh 10 Persen
PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mencatat penguatan kinerja sepanjang 2025 dengan laba bersih tumbuh lebih dari dua kali lipat.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mencatat penguatan kinerja sepanjang 2025 dengan laba bersih tumbuh lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Penguatan tersebut ditopang perbaikan kualitas portofolio bisnis, efisiensi operasional, dan penguatan manajemen risiko perusahaan.
Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R Mahelan Prabantarikso mengatakan, transformasi bisnis yang dilakukan beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil positif.
Baca juga: Pemkot Semarang Perkuat Pengendalian Keselamatan Jalan di Silayur
Baca juga: Halal Center UIN Saizu Sosialisasikan SJPH untuk Pesantren Produsen AMDK bersama Bank Indonesia
“Capaian 2025 bukan sekadar pertumbuhan angka, tetapi hasil dari fondasi yang kami bangun secara konsisten, khususnya dalam penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kualitas underwriting,” ujarnya di Semarang, Kamis (7/5/2026).
Berdasarkan laporan keuangan unaudited, ekuitas Askrindo secara konsolidasi meningkat menjadi sekitar Rp 9,4 triliun dengan total aset mencapai Rp 32,9 triliun.
Mahelan menyebut, tren pertumbuhan tersebut masih berlanjut pada awal 2026.
Hingga Maret 2026, Askrindo membukukan premi sebesar Rp 1,16 triliun atau tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan terbesar berasal dari lini asuransi umum yang meningkat hingga 44 persen.
Sementara laba perusahaan tercatat tumbuh sekitar 77 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami memastikan pertumbuhan yang dicapai bukan hanya cepat, tetapi juga berkualitas. Fokus kami menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan disiplin risiko,” katanya.
Fokus Penjaminan Kredit dan UMKM
Di tengah tingginya rasio klaim industri asuransi kredit, Askrindo tetap memfokuskan bisnis pada sektor penjaminan pembiayaan, terutama UMKM dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurut Mahelan, secara nasional portofolio bisnis perusahaan masih didominasi asuransi kredit sekitar 70 persen, disusul penjaminan 20 persen dan sisanya asuransi umum.
Ia menegaskan, industri asuransi kredit memiliki peran strategis dalam menyerap risiko pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha.
“Ketika risiko pembiayaan meningkat, asuransi hadir untuk menjaga stabilitas,” ujarnya.
Askrindo juga memperkuat mitigasi risiko melalui optimalisasi data dan teknologi dalam proses underwriting, penguatan kolaborasi dengan perbankan, hingga perbaikan sistem klaim dan recovery.
| Agen Properti di Semarang Mulai Gunakan Format "Dracin" untuk Promosi |
|
|---|
| Trend Bisnis Robotik Car Wash Mulai Masuk Semarang |
|
|---|
| Cicilan Jadi Penopang Daya Beli Warga, WOM Finance Salurkan Pembiayaan Rp5,94 Triliun di 2025 |
|
|---|
| Tren Positif Pertumbuhan Pariwisata Jateng Dilirik Industri Asuransi |
|
|---|
| Jawa Tengah Jadi Magnet Industri dan Manufaktur, Ekosistem Bisnis Ikut Berbenah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260507_MENJELASKAN-Direktur-Kepatuhan.jpg)