Tribun Jateng Hari Ini
Menkeu Sebut IHSG dan Nilai Tukar Rupiah Bukan Cerminan Fundamental Ekonomi
Pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih ditopang sektor swasta dan aktivitas domestik, sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kondisi ekonomi masyarakat akan membaik dalam 6 bulan ke depan, seiring dengan upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut dia, pemerintah saat ini terus mendorong pertumbuhan ekonomi agar lebih ditopang sektor swasta dan aktivitas domestik, sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.
“Saya pikir 6 bulan dari sekarang akan semakin kelihatan bahwa orang-orang yang tadinya susah tuh akan semakin berkurang dan semakin berkurang lagi,” katanya, di acara Jogja Financial Festival 2026 seperti dikutip dari akun Youtube resmi LPS, Jumat (22/5).
Purbaya mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bisa langsung dijadikan cerminan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Ia menyebut, pergerakan pasar saham maupun rupiah sangat dipengaruhi ekspektasi dan sentimen pasar. “Jadi rupiah dan IHSG beda dengan fondasi ekonomi," ujarnya.
"Kadang-kadang karena di situ ada ekspektasi juga ke depan seperti apa. Nilai tukar rupiah dipenuhi ekspektasi, nilai pasar saham juga dipenuhi ekspektasi,” sambungnya.
Purbaya menuturkan, sentimen negatif terhadap pasar keuangan Indonesia belakangan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI), pemangkasan outlook kredit oleh sejumlah lembaga pemeringkat global, hingga tekanan terhadap rupiah.
Namun, ia menilai, kondisi tersebut tidak mencerminkan fondasi ekonomi nasional secara keseluruhan. Menkeu menegaskan, pemerintah terus memperbaiki fondasi ekonomi agar Indonesia tidak mengalami krisis seperti 1998.
“Dan sekarang boleh dibilang, walaupun enggak sempurna ya, kebijakan yang besarnya enggak ada yang salah. Kita enggak akan mengulangi 1998 lagi,” ucapnya.
Ia bahkan menyinggung Indonesia saat ini tidak berada di bawah skema bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) seperti saat krisis 1998.
“Karena waktu itu kan ada IMF, kalau sekarang kan saya bukan IMF. Saya pinteran dikit dari IMF. Jadi enggak usah takut,” tukasnya, sambil tertawa.
Bendahara negara itu optimistis percepatan pertumbuhan ekonomi akan mulai terlihat dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika mesin pertumbuhan sektor swasta mulai bergerak lebih kuat.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya berharap tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat secara perlahan dapat berkurang. (Kompas.com/Debrinata Rizky)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251003_Menteri-Keuangan-Purbaya-Yudhi-Sadewa-di-Kudus_1.jpg)