Kamis, 4 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Pemerintah Mulai Kewalahan Penuhi Susu untuk Program MBG

Kebutuhan susu nasional melonjak drastis hingga miliaran kemasan per tahun, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. 

Tayang:
Editor: Vito
Kompas.com
ilustrasi - susu kemasan di menu MBG. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Penyediaan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menghadapi tantangan serius dengan terus bertambahnya jumlah penerima manfaat. 

Di tengah ekspansi besar-besaran program prioritas nasional itu, kebutuhan susu nasional melonjak drastis hingga miliaran kemasan per tahun, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. 

Kondisi itu membuat pemerintah mengakui mulai menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan susu untuk program yang ditujukan menjangkau puluhan juta penerima manfaat tersebut.

“Program MBG tahun 2026 ini, kebutuhan susu itu sebesar 4,8 miliar kemasan,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Meriyanti Punguan Pitaloka, dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut dia, besarnya kebutuhan tersebut belum diimbangi dengan kapasitas industri pengolahan susu nasional yang saat ini masih terbatas.

Meri menuturkan, kemampuan industri pengolahan susu dalam negeri untuk memproduksi susu kemasan untuk ukuran yang dibutuhkan dalam program MBG baru memenuhi sekitar separuh dari total kebutuhan program.

“Kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 dan 125 mililiter itu baru 2,39 miliar atau 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan,” bebernya.

Ia menyebut, ketimpangan antara kebutuhan dan kapasitas produksi tersebut membuat pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah percepatan agar pasokan susu nasional dapat meningkat.

Meri menyatakan, satu upaya yang dilakukan adalah melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan industri yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh penggantian investasi hingga 35 persen, khususnya bagi industri yang menggunakan produk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

“Program restrukturisasi ini bisa diikuti dan reimburse sampai dengan 35 persen dari nilai investasi yang dikeluarkan,” jelasnya.

Selain mendorong peningkatan kapasitas industri, dia menambahkan, pemerintah juga berharap keterlibatan lebih besar dari koperasi peternak dan industri pengolahan susu agar kebutuhan program dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

“Kami sangat berharap industri pengolahan susu ini bisa bermitra dengan koperasi-koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi-koperasi yang ingin melakukan pengolahan untuk pemenuhan susu MBG ini,” ucapnya.

Tantangan

Adapun, tantangan pemenuhan susu juga dirasakan langsung pelaksana program di lapangan. Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Gunalan mengakui, pihaknya mulai kewalahan memenuhi tingginya permintaan susu seiring dengan bertambahnya jumlah penerima manfaat MBG.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 29.670 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi dengan total penerima manfaat mencapai lebih dari 63 juta orang.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved