Tribun Jateng Hari Ini
Ada Dampak Berantai Pelemahan Rupiah
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai menjadi satu dampak pelemahan rupiah, yang berpotensi memberikan efek domino.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas PGRI Semarang, Heri Prabowo mengatakan, kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai menjadi satu dampak, karena komponen pembentuk harga BBM masih banyak dipengaruhi kondisi pasar global.
Dia menambahkan, kenaikan harga Pertamax itu kemudian berpotensi memberikan efek domino terhadap daya beli masyarakat.
Sebab, BBM nonsubsidi tersebut banyak digunakan masyarakat kelas menengah, kendaraan pribadi, hingga sejumlah perusahaan.
“Pertamax ini banyak digunakan kendaraan pribadi kelas menengah. Sebelumnya selisih harga dengan Pertalite tidak terlalu jauh, sehingga masyarakat masih mempertimbangkan aspek ekonomi dan kualitas. Tetapi ketika selisihnya semakin besar, masyarakat akan mulai menghitung ulang penggunaan BBM,” bebernya.
Heri menuturkan, satu kemungkinan yang bisa terjadi adalah sebagian pengguna Pertamax kembali beralih menggunakan Pertalite.
Hal itupun perlu menjadi perhatian pemerintah, karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan BBM subsidi.
“Ketika masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax kemudian beralih ke Pertalite, maka kebutuhan Pertalite bisa meningkat. Ini juga harus diperhatikan karena berkaitan dengan beban subsidi pemerintah melalui APBN,” jelasnya.
Tak hanya masyarakat, Heri menyatakan, kenaikan harga Pertamax berpotensi berdampak terhadap sektor usaha.
Menurut dia, beberapa perusahaan maupun instansi menggunakan kendaraan operasional yang membutuhkan BBM nonsubsidi.
Ketika biaya operasional kendaraan meningkat, perusahaan akan melakukan penyesuaian terhadap biaya produksi maupun harga barang dan jasa yang dihasilkan.
“Dampaknya tidak berhenti di harga BBM saja. Ketika biaya transportasi meningkat, perusahaan tentu akan menghitung kembali biaya operasionalnya. Pada akhirnya bisa terjadi penyesuaian harga barang maupun jasa," ucapnya.
Heri mengungkapkan, sektor UMKM juga tidak luput dari dampak pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi, terutama pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor.
Pelaku UMKM berada dalam posisi yang cukup sulit karena harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau, tetapi di sisi lain biaya produksi mengalami kenaikan.
“Kalau harga dinaikkan, risiko kehilangan konsumen ada. Tetapi kalau harga tetap, margin usaha semakin tipis,” tukasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Dekan-FEB-Upgris-Heri-Prabowo.jpg)