Jumat, 1 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Inspiratif Virda: Disiplin, Digitalisasi, dan Usaha UMKM Digital di Usia 23 Tahun

Di tengah anggapan bahwa membangun usaha harus menunggu modal besar dan waktu yang “sempurna”, Virda memilih melangkah lebih dulu

Tayang:
Penulis: muh radlis | Editor: muslimah
Istimewa
Virda saat menerima penghargaan sebagai Juara 3 PUJAAN Vol. 4 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Di tengah anggapan bahwa membangun usaha harus menunggu modal besar dan waktu yang “sempurna”, Virda memilih melangkah lebih dulu.

Di usia 23 tahun, ia menjalani dua peran sekaligus: bekerja penuh waktu sebagai staf keuangan di Yayasan Darul Hikmah Jepara dan mengembangkan toko kelontong keluarga agar lebih modern serta berdampak bagi lingkungan sekitar. 

Kisahnya menjadi potret nyata bahwa peluang berwirausaha terbuka bagi siapa saja—tanpa batas usia, latar pendidikan, maupun kesibukan harian.

Dibesarkan dalam kultur disiplin Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, Virda terbiasa mengelola waktu dan tanggung jawab sejak dini. 

Baca juga: Tak Sekadar Lari, Semarang 10K Dongkrak UMKM Lokal

Bekal itu kian terasah setelah ia menuntaskan pendidikan di UIN Walisongo Semarang. 

Alih-alih merantau jauh, Virda memilih tetap dekat dengan keluarga. 

Setiap hari, selepas jam kerja pukul 13.00, ia langsung mengurus toko kelontong orang tuanya. 

Keputusan yang tampak sederhana itu justru menjadi fondasi perjalanan wirausaha yang ia rancang dengan matang.

Bagi Virda, menjadi pengusaha bukan soal memiliki banyak waktu luang, melainkan keberanian untuk mencoba dan keyakinan bahwa langkah kecil dapat membuka peluang besar. 

Prinsip tersebut mengantarkannya bergabung sebagai Mitra Bukalapak. 

Sejak saat itu, toko kelontong keluarga tidak lagi sekadar tempat belanja kebutuhan pokok. 

Beragam layanan digital mulai hadir, dari pembayaran tagihan hingga produk digital dan transaksi keuangan—layanan yang sebelumnya identik dengan gerai modern.

Perlahan, toko kecil itu bertransformasi menjadi pusat layanan masyarakat. 

Warga sekitar datang tidak hanya untuk membeli sembako, tetapi juga mengurus berbagai kebutuhan digital yang memudahkan aktivitas sehari-hari. 

“Sebagai perempuan, saya ingin tetap mandiri dan membantu keluarga. Usaha ini bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga memberi manfaat,” tutur Virda.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved