Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

DPRD Kabupaten Tegal

Bukan Persoalan Sepele, DPRD Kabupaten Tegal Minta Segera Ada Penanganan Bendung Cipero yang Jebol 

DPRD Kabupaten Tegal menyayangkan lambannya respon pemerintah menangani Bendung Cipero yang jebol sejak 15 Maret 2026

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/DPRD Kabupaten Tegal
TINJAU BENDUNG CIPERO: Ketua DRPD Kabupaten Tegal Wasbun Jauhara Khalim (kemeja hijau army), saat meninjau kondisi Bendung Cipero di Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja pada awal April 2026. DPRD Kabupaten Tegal menyayangkan lambannya respon pemerintah menangani Bendung Cipero yang jebol sejak 15 Maret 2026 hingga kini belum diperbaiki.  

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - DPRD Kabupaten Tegal menyayangkan lambannya respon pemerintah menangani Bendung Cipero yang jebol sejak 15 Maret 2026 hingga kini belum diperbaiki. 

Sebulan lebih belum ada penanganan lebih lanjut padahal ribuan hektare lahan pertanian di wilayah pantura Kabupaten Tegal kini berada di ujung tanduk.

Bendung Cipero berada di Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal menjadi urat nadi pengairan bagi petani di wilayah Kecamatan Warureja dan Suradadi.

Kondisi tersebut mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tegal, Muhammad Zaenudin. 

Ia tegas menyebut persoalan ini tidak bisa dianggap masalah sepele. 

"Persoalan ini bukan kerusakan kecil. Kalau tidak segera diperbaiki dampaknya luar biasa. Ada 7.643 hektare lahan pertanian yang terancam gagal panen khususnya di wilayah Kecamatan Warureja dan Suradadi," ungkap Zaenudin, pada Tribunjateng.com, Selasa (14/4/2026). 

Dikatakan Zaenudin, selama ini petani sangat bergantung pada aliran air dari Bendung Cipero terutama saat musim kemarau. 

Kerusakan yang tak kunjung ditangani membuat para petani mulai panik, terlebih dalam waktu dekat akan memasuki musim tanam pertama (MT 1) dan musim tanam kedua (MT 2).

"Bagaimana petani tidak resah, mereka hidup dari sawah kalau air tidak ada ya habis. Penanganan Bendung Cipero bukan hanya soal pertanian tapi juga soal ekonomi masyarakat yang digantungkan di sana," tegas Zaenudin. 

Bahkan Zaenudin menyebut, jika pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat tidak segera turun tangan maka dampaknya bisa meluas. 

Lumbung padi di Kabupaten Tegal terancam menyusut yang pada akhirnya akan mengganggu perputaran ekonomi daerah.

"Perlu penanganan segera karena jika dibiarkan bisa menjadi efek domino. Produksi padi turun dan ekonomi juga pastinya ikut terdampak," ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Daerah Irigasi Rambut, Masroni menerangkan, saat ini terdapat sekitar 1.000 hektare tanaman padi yang akan segera memasuki masa panen.

Namun kondisi irigasi yang tidak optimal akibat jebolnya Bendung Cipero membuat hasil panen terancam gagal.

Menurut Masroni pada Selasa (14/4/2026), tim dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) telah meninjau lokasi Bendung Cipero

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved