Berita Cilacap
Memanas! Puluhan Nelayan dan Petani Ujungalang Protes Sengketa Lahan di Kantor BPN Cilacap
Puluhan nelayan dan petani protes di depan Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Cilacap, Rabu (24/9/2025).
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, CILACAP – Di bawah terik matahari, puluhan nelayan dan petani Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, berbaris sambil mengangkat poster karton sederhana.
Dengan caping di kepala dan wajah penuh kegelisahan, mereka menyuarakan tuntutan di depan Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Cilacap, Rabu (24/9/2025).
Mereka meminta penyelesaian sengketa lahan di perbatasan Nusakambangan yang telah mereka garap puluhan tahun.
Baca juga: Stafnya Terpaksa Berkantor di Perpustakaan Sekolah, Abdul Hamid Kades Tunggulsari Kendal Menghilang
Suara lantang orator dari pengeras suara berpadu dengan spanduk penolakan program food estate dan ancaman penggusuran.
Koordinator Aksi, Wandi Nasution menegaskan, warga hanya ingin kepastian hukum tanpa ada intimidasi maupun teror.
Menurutnya, sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) dan Surat Hak Pakai (SHP) yang diarahkan ke tanah warga harus dihentikan karena banyak di antaranya telah memiliki sertifikat hak milik.
"Warga sudah lama mengelola tanah ini, jangan sampai mereka disingkirkan dari wilayahnya sendiri," tegasnya.
Menurutnya, sejak tahun 1999 mereka menggarap lahan di Dusun Gragalan, Desa Ujungalang.
Wandi menceritakan sejak Desember 2024, warga dipanggil ke Lapas Nusakambangan untuk diberitahu bahwa lahan yang mereka tempati adalah milik Lapas Nusakambangan.
Bahkan pada Maret 2025, muncul perintah agar warga mengosongkan lahan dalam 20 hari, yang kemudian ditolak mentah-mentah.
Pematokan lahan secara sepihak juga pernah dilakukan tanpa surat resmi maupun sosialisasi, sehingga memicu penolakan keras.
Lebih jauh, warga menyebut sudah ada pembukaan food estate seluas 34,2 hektare yang dikerjakan napi di lahan yang sebelumnya mereka tanami.
"Ini tanah tempat tinggal dan bercocok tanam kami, tapi sekarang diubah jadi food estate," ujar Wandi.
Menurut Wandi, terdapat 32 kepala keluarga dengan sekitar 100 jiwa yang terancam kehilangan tempat tinggal dan lahan garapan.
Padahal, sebagian lahan yang mereka tempati sudah berstatus Sertifikat Hak Milik (SHM), sementara sebagian lainnya terdata melalui Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).
| Viral Supriadi Napi Kasus Korupsi Ngopi Bebas di Cafe Langsung Dipindah ke Nusakambangan |
|
|---|
| Detik-Detik Pasien Jatuh dari Lantai 3 RSUD Cilacap, Sempat Ditahan Keluarga |
|
|---|
| Pasien RSUD Cilacap Tewas Usai Lompat dari Lantai Tiga, Polisi Ungkap Kronologi Lengkap |
|
|---|
| Ramai Soal "El Nino Godzilla" Ancam Kemarau Panjang, BMKG Cilacap Buka Fakta Sebenarnya |
|
|---|
| Istri Gugat Cerai Suami Mendominasi Angka Perceraian di Cilacap, 3 Bulan Capai 1.461 Kasus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250924_Puluhan-nelayan-dan-petani-Desa-Ujungalang-Cilacap_1.jpg)