Tribunjateng Hari ini
Disdikpora Wonosobo Bentuk Tim, Dalami Dugaan Kekerasan hingga Tewaskan Siswa SD di Kertek
Disdikpora Wonosobo membentuk tim khusus untuk mendalami dugaan kekerasan dan perundungan hingga menewaskan siswa kelas 3 SD di Kecamatan Kertek.
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo merespons dugaan perundungan dan kekerasan hingga menewaskan seorang siswa kelas tiga sebuah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Kertek, berinisial TA (9). Kepala Disdikpora, Musofa, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran langsung ke sekolah terkait.
Melalui Koordinator Wilayah (Korwil), tim Disdikpora Wonosobo telah bertemu kepala sekolah serta guru-guru untuk mengumpulkan informasi berkait dugaan kekerasan tersebut. "Kami sudah meminta keterangan dari pihak sekolah, baik secara lisan maupun dalam bentuk laporan tertulis mengenai situasi dari Agustus hingga Oktober," ungkap Musofa, Jumat (10/10).
Dalam laporan tersebut diketahui, selama Agustus hingga Oktober, sekolah menjalani proses revitalisasi. Kegiatan upacara sempat ditiadakan, namun apel Hari Kesaktian Pancasila tetap digelar pada Rabu (1/10).
Baca juga: Ibu Bongkar Fakta Kronologi Kematian Anaknya Korban Perundungan di Wonosobo: Awalnya Sakit Perut
Baca juga: FAKTA Lain Kematian Siswa SD Karena Perundungan, Disdikpora Wonosobo: TA Tidak Ikut Upacara
Terkait informasi yang menyebut dugaan perundungan terjadi saat upacara, Musofa menegaskan bahwa siswa yang dimaksud tidak hadir pada hari itu karena sakit. "Di rekaman CCTV juga tidak terlihat yang bersangkutan karena memang tidak masuk sekolah," jelasnya.
Untuk menggali informasi lebih dalam, Disdikpora Wonosobo membentuk tim tambahan yang melibatkan pejabat dinas dan tokoh masyarakat. Tim ini ditugaskan menemui orang tua siswa, lurah setempat, serta pihak-pihak terkait lain.
"Kami ingin memastikan kebenaran informasi yang beredar. Harapan kami, tidak terbukti ada praktik bullying di sekolah tersebut," tambahnya.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya perundungan tersebut. Berdasarkan keterangan guru kelas dan guru-guru sebelumnya, siswa yang bersangkutan memang diketahui kerap absen karena kondisi kesehatan.
Orang tua siswa tersebut juga secara rutin memberikan informasi izin sakit melalui pesan grup WhatsApp kepada wali kelas, dan bukti komunikasi itu masih tersimpan. "Kalau anak sakit, itu kondisi yang harus dimaklumi. Tidak bisa dipaksakan untuk tetap masuk sekolah," ujar Musofa.
Serahkan bukti presensi
Pihak sekolah pun telah menyiapkan dokumen presensi kehadiran siswa dan bukti komunikasi dengan orangtua untuk mendukung keterangan tersebut. Dalam laporan tertulis dari Korwil Kecamatan Kertek, disebutkan bahwa TA tak hadir dalam apel Hari Kesaktian Pancasila, karena izin sakit.
Selama tahun ajaran 2025/2026 hingga 4 Oktober 2025, wali kelas menyatakan tidak pernah menerima laporan adanya perkelahian atau konflik yang melibatkan TA, baik dari sesama siswa maupun dari orangtua murid.
Dewan guru pun mengungkapkan bahwa sejak kelas 1 hingga kelas 3, kondisi fisik TA memang tampak lemah, dengan wajah yang sering pucat. Dalam proses pembelajaran, TA sering mengeluhkan pusing dan menunjukkan kesulitan berkomunikasi. Bahkan, saat diajak bicara, TA sering kali hanya membalas dengan anggukan atau gelengan kepala.
Pemantauan melalui rekaman CCTV di ruang kelas dan halaman sekolah pada periode 10 hingga 26 September 2025 juga tidak menunjukkan adanya peristiwa perkelahian yang melibatkan siswa tersebut. Menutup pernyataannya, Musofa menyampaikan rasa duka dan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan.
"Mudah-mudahan, kepergian ananda TA menjadi wasilah bagi kebaikan orangtuanya," ucap Musofa.
Sebelumnya diberitakan, siswa kelas 3 SD di Kertek meninggal dunia pada Selasa (7/10) malam, setelah dirawat di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo. Ayah korban, Dedi Handi Kusuma (34), menyatakan saat dalam perawatan anaknya mengaku dipukul teman sekolah saat upacara Hari Kesaktian Pancasila, pada Rabu (1/10).
Kasat Reskrim Polres Wonosobo AKP Arif Kristiawan, mengaku masih mendalami kasus ini. Kata dia, penyidik telah memeriksa sejumlah saksi.
Bapaknya anak mungkin salah ngomong
Ibu korban, Siti Fatimah, menyatakan TA tak mempunyai riwayat penyakit yang membahayakan. Ia menyatakan, tak menutup kemungkinan anaknya memang menjadi korban kekerasan dan perundungan, namun bisa jadi bukan saat upacara Hari Kesaktian Pancasila di sekolah.
Senada dengan keterangan Disdikpora, ia mengakui pada Rabu (19/10, TA tidak masuk sekolah karena sakit. "Yang 1 Oktober itu kayaknya si bapaknya anak saya salah ngomong (karena saya sudah pisah dengan bapak anak saya), anak saya libur. Karena sudah izin dari tanggal 26 September," jelasnya, Jumat (10/10).
Siti juga menambahkan bahwa sejak naik ke kelas tiga, semangat TA untuk bersekolah mulai menurun. Bahkan, anaknya sering terlihat malas saat hendak berangkat ke sekolah. Di rumah, TA dikenal sebagai anak yang pendiam dan jarang mengeluh, terutama karena tidak ingin membuat ibunya sedih.
Kini, keluarga tengah menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian TA. "Kita menunggu hasil autopsi, menunggu kejelasan dan keadilan. Kalau hasil autopsi nggak ditemukan apa-apa ya kita ikhlas. Kalau ditemukan tanda-tanda penganiayaan ya kita minta keadilan," tutupnya. (Imah Masitoh)
| Kasus Calo Pekerja Outsourcing di Kabupaten Pekalongan Seret ASN, Motor Dinas Sempat Jadi Jaminan |
|
|---|
| Geliat Peternak Hewan Kurban di Blora Jelang Momen Iduladha, Kasno Fokus Spesialis Jual Sapi Jumbo |
|
|---|
| Sukai Kegiatan Sosial, Niken Pilih Donor Darah di Momen May Day di Jepara |
|
|---|
| Telusur Wisata Sejarah Pekalongan, Pinot Ajak Menyelami Tinggalan Masa Lalu |
|
|---|
| Dua Hari Pascakcelakaan, Perjalanan Kereta Semarang-Jakarta Kembali Normal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251010-_-Kepala-Disdikpora-Kabupaten-Wonosobo-Musofa.jpg)