Minggu, 31 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Siswa SD di Wonosobo Jijik Lihat Menu Tahu MBG Berbelatung

Siswa SDN 2 Kalikarung, Wonosobo, jijik melihat tahu menu MBG berbelatung. Beruntung, mereka belum menyantapnya, sehingga tidak keracunan.

Tayang:
Penulis: Yayan | Editor: galih permadi
Tribunjateng/bramkusuma
Jateng Hari Ini Minggu 19 Oktober 2025 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Kelayakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan. Di Wonosobo, ditemukan tahu berbelatung pada menu MBG yang dibagikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonosobo menyebut, peristiwa itu terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kalikarung, Kecamatan Kalibawang.

Kepala Dinkes Kabupaten Wonosobo, Jaelan Sulat, menegaskan menu tahu berbelatung tersebut belum sempat disantap oleh siswa. Kata dia, belatung itu ditemukan saat uji organoleptik pada menu MBG sebelum diberikan kepada siswa.

Dituturkan, tim keamanan pangan sekolah melakukan uji organoleptik, yaitu pemeriksaan fisik dan sensorik makanan dengan melihat, meraba, mencium, dan mencicipi, sebelum MBG dibagikan. "Pada proses inilah, larva atau belatung ditemukan di lauk tahu," ujarnya, Sabtu (18/10).

Baca juga: Viral Menu MBG Berbelatung di Wonosobo, Dinas Kesehatan Beri Penjelasan

Baca juga: Puluhan Siswa SMAN 1 Bukateja Diare Usai Santap MBG, Sampel Makanan Kunci Sudah Hilang

Jaelan menambahkan bahwa tidak ada siswa yang mengalami keracunan atau gangguan kesehatan akibat peristiwa tersebut. “Jadi, makanan itu belum sempat dimakan anak-anak, hanya membuat mereka jijik melihatnya. Pihak sekolah langsung menarik dan mengembalikan makanan ke SPPG untuk diganti,” sambung Jaelan.

Masih menurut Jaelan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kemudian mengganti menu sesuai prosedur yang berlaku. “Itu kewajiban penyedia. Begitu ditemukan tidak layak konsumsi, makanan langsung diganti,” ucap Jaelan menegaskan.

Dinkes Wonosobo, tegas dia, memberikan teguran resmi kepada SPPG yang menyiapkan menu tersebut agar memperketat pengawasan. Teguran juga ditembuskan ke Badan Gizi Nasional (BGN) melalui koordinator wilayah. 

“Kami beri teguran satu. Kalau terjadi lagi, bisa lanjut ke teguran dua, tiga, hingga surat peringatan,” ungkap Jaelan.

Program MBG di Wonosobo, sambungnya, dijalankan oleh 31 SPPG yang tersebar di seluruh kecamatan. Menurut Jaelan, Wonosobo merupakan salah satu daerah yang lebih dulu menerapkan sistem mitigasi keamanan pangan saat program MBG dimulai pada 13 Januari 2025. 

“Kami sudah latih para penjamah pangan agar tahu cara menyiapkan, mengolah, dan mendistribusikan makanan dengan aman. Alhamdulillah, sejauh ini Wonosobo belum pernah mengalami kasus keracunan pangan massal,” ujarnya.

Jaelan menegaskan bahwa insiden tersebut sudah ditangani sesuai prosedur dan tidak menimbulkan dampak kesehatan pada peserta program. “Kami minta masyarakat tetap tenang. Pengawasan terus dilakukan, dan semua pihak sudah bertindak cepat,” pungkasnya.

Diare massal di Purbalingga

Terpisah, sejumlah siswa SMAN 1 Bukateja mengalami gejala diare massal setelah mengonsumsi MBG yang didistribusikan oleh SPPG Bajong, pada Jumat (10/10). Gejala diare baru dirasakan oleh para siswa pada Sabtu (11/10) dini hari. 

Peristiwa itu terungkap setelah pihak sekolah melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala SPPG Bajong. Laporan kemudian diteruskan ke Koordinator SPPG Purbalingga, Kepala Regional Provinsi Jawa Tengah, hingga Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga, Devy Setyawati, membenarkan adanya laporan tersebut. “Kami menerima laporan pada Selasa (14/10/2025), kemudian langsung melakukan kunjungan ke dapur terkait,” ujar Devy, Jumat (17/10). (Kompas.com/Farah Anis Rahmawati)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved