Berita Banyumas
Memperpanjang Napas Energi Hijau untuk Masa Depan
Memperpanjang usia pembangkit energi baru terbarukan (EBT) menjadi wujud komitmen menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: raka f pujangga
Memperpanjang usia pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sejatinya bukan sekadar upaya teknis menjaga mesin tetap bekerja, tetapi wujud komitmen menjaga harmoni antara manusia dan alam.
TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Di sebuah lembah hijau yang diselimuti kabut pagi di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (22/10/2025) sekitar pukul 09.00 WIB, suara turbin tua masih terdengar lirih, berpadu dengan gemericik air yang mengalir tanpa henti.
Effendi (37) keluar dari ruang kontrol dengan mengenakan alat pelindung diri lengkap.
Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, ia menapaki jalur sempit menuju area pipa pesat atau penstock, pipa raksasa yang menyalurkan air dari bendungan atau kolam menuju turbin.
Dengan langkah hati-hati, ia memeriksa setiap sambungan dan baut.
Setiap tetes air yang keluar dari celah sekecil jarum menjadi sinyal penting yang tak boleh diabaikan.
Usai memeriksa pipa besar Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ketenger, ia tidak langsung bersantai, tetapi melanjutkan tugas dengan mengecek mesin pembangkit di power house atau rumah pembangkit.
Baca juga: Cegah Kerusakan, Petugas Rutin Cek Pipa Pesat Indonesia Power Sub Unit PLTA Ketenger Banyumas
Meskipun masih handal, pemeriksaan terus dilakukan secara rutin di salah satu PLTA tertua di Indonesia dengan kapasitas 8,5 MW tersebut. PLTA Ketenger dibangun pada masa penjajahan Belanda pada 1932 hingga 1939.
“Di pembangkit kami sering mengecek pelumas, seal klep pembangkit, karena itu yang sering butuh perawatan,” kata Bayu Pribadi, Team Leader Unit PLTA Ketenger Unit Pembangkitan Mrica PT PLN Indonesia Power.
Saat sejumlah teknisi sibuk di sekitar power house PLTA Ketenger, sekitar empat kilometer utara dari lokasi tersebut, satu tim mengecek pintu pengambilan air (intake) di waduk/bendungan atau Kolam Tando Harian (KTH) Muntu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas. Kolam ini berada di ketinggian untuk menciptakan energi potensial kinetik karena ketinggian jatuh air.
Mereka harus melewati jalan tanah setapak untuk memeriksa kolam penampungan air yang merupakan komponen utama dari PLTA Ketenger. Sumber air di kolam ini berasal dari aliran Sungai Banjaran dan Sorobadak. Memiliki luas tangkapan 30 kilometer, dengan debit rata-rata tiap tahun yang masuk ke adalah 2,1 meter kubik perdetik. Sedimentasi di kolam penampungan ini juga rutin diangkat dari dasar kolam untuk menjaga performa pembangkit.
Bayu Pribadi menuturkan, apa yang dilakukan tenaga teknisi atau operator di PLTA Ketenger adalah bagian dari pemeliharaan rutin.
Aktivitas ini berperan penting dalam menjaga umur pembangkit energi hijau dan terbarukan itu bisa lebih panjang.
Hal ini terbukti PLTA Ketenger masih beroperasi hingga saat ini.
“PLTA Ketenger ini sudah ada sejak 1939, sudah tua, belasan tahun lagi sudah berusia seabad. Namun, performanya masih bagus, kami melakukan pengecekan rutin dan perbaikan minor,” jelas Bayu.
| Menari 24 Jam Tanpa Henti, Baltazar Oka: Panggilan Hati Mengenal Tubuh dan Mensyukuri Anugerah |
|
|---|
| 90 Komunitas hingga Peserta Mancanegara Ramaikan Banyumas Ngibing 24 Jam |
|
|---|
| Ribuan ASN Banyumas Didorong Jadi "Orang Tua Asuh" Bagi Pekerja Rentan Melalui Salin Aslimas |
|
|---|
| May Day, Buruh di Purwokerto Keluhkan Harga Sembako Mahal |
|
|---|
| May Day di Alun-alun Purwokerto, Polresta Banyumas Siagakan Personel Sejak Pagi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251023_PLTA-Ketenger-di-Banyumas_1.jpg)