Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banjarnegara

Merawat Serayu, Menjaga Harapan Energi Berkelanjutan

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PB Soedirman yang dioperasikan Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu terus dipacu di tengah derasnya sedimentasi.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
Tribunjateng/Khoirul Muzaki
JADI DARATAN - Kondisi Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Panglima Besar Soedirman (Mrica) Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebagian area waduk tertutup eceng gondok dan sedimen hingga menyerupai daratan, Selasa (21/10/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Tiga kapal pengeruk (dredger) terus beroperasi di Bendungan Panglima Besar (PB) Soedirman atau dikenal Waduk Mrica Banjarnegara, Jawa Tengah

Mesin itu tak henti mengeruk sedimen yang telah menyulap sebagian area waduk menjadi daratan. 

Ikhtiar mengurangi endapan lumpur yang mengancam operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PB Soedirman yang dioperasikan Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu terus dipacu, di tengah derasnya laju sedimentasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu. 

Baca juga: Hari Listrik Nasional, PLN UID Jateng dan DIY Bersama LAZiS Jateng Gelar Khitan Ceria

Ini bukan pekerjaan mustahil. Senior Manager PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica Nazrul Very Andhi tetap optimis, pihaknya mampu mengendalikan sedimen waduk untuk menjaga keberlanjutan PLTA PB Soedirman.   

Air adalah nafas alias komponen utama yang tak tergantikan dalam proses pembangkitan listrik PB Soedirman. Karena itu, ketersediaan sumber energi baru terbarukan (EBT) tersebut wajib dirawat. 

“Minimal bisa mengurangi 2 persen dari 133 juta meter kubik sedimen, itu sudah bagus,”katanya, Selasa (21/19/2025).

Bendungan PB Soedirman bukan hanya ujung tombak operasional PLTA, tapi sekaligus urat nadi kehidupan masyarakat 5 kabupaten, yakni Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. 

Bicara bendungan tak melulu soal bisnis listrik. Waduk Mrica juga berfungsi mengalirkan air untuk irigasi yang menjangkau puluhan ribu hektar lahan pertanian di beberapa kabupaten.  Dari situ,  perekonomian warga, khususnya petani berdenyut. 

Waduk Mrica juga  berguna sebagai pengendali bencana banjir. Di situ luapan Sungai Serayu tertahan, lalu dialirkan secara terkendali untuk mencegah banjir di wilayah hilir. 

“PLTA tak hanya mendukung kedaulatan energy, tapi juga kedaulatan pangan lewat irigasi,”katanya

Sejak beroperasi tahun 1989, PLTA PB Soedirman nyaris tak pernah berkonflik dengan masyarakat. 

Ini membuktikan, bisnis berbasis EBT ini tak mencemari dan merugikan lingkungan. PLTA memang tak menghasilkan emisi gas rumah kaca karena tidak ada aktivitas pembakaran saat beroperasi. 

Sebaliknya, keberadaan PLTA PB Soedirman justru membawa berkah bagi warga. 

“PLTA dengan EBT itu besar di awal untuk investasinya, bikin bendungan pembebasan lahan, tapi seterusnya efisien,”katanya.

20251023_Waduk Panglima Besar Soedirman_2
PENGERUKAN SEDIMEN- Proses pengerukan sedimen di Waduk Panglima Besar Soedirman menggunakan kapal keruk (dredger). Laju sedimen di Waduk Mrica mencapai rata-rata 3,7 juta meter kubik setahun, Selasa (10/10/2025).

Problem Sedimentasi

Tetapi bermacam manfaat itu bisa terhenti jika problem sedimentasi tak teratasi.   PLTA Mrica terancam tutup dalam beberapa tahun ke depan akibat parahnya sedimentasi.  

Padahal, pembangkit yang menghasilkan listrik 3 x 59.8 Megawatt ini bagian dari suplai interkoneksi listrik Jawa dan Bali. 

Merawat keberlangsungan PLTA Mrica berarti menjaga komitmen pemerintah untuk menurunkan jumlah pembangkit berbasis bahan bakar fosil, serta semangat energi hijau untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen. 

“Kapasitas waduk sekarang hanya tersisa 10 persen,”katanya

Tentunya, Nazrul menandaskan, ini bukan hanya tanggung jawab PLN Indonesia Power UBP Mrica. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu yang menyumbang sedimentasi di waduk terjadi akibat degradasi lingkungan di hulu, khususnya dataran tinggi Dieng.  

Masyarakat di sepanjang DAS Serayu dinilainya juga punya peran vital untuk ikut menjaga keberlanjutan Waduk Mrica. DAS Serayu bukan hanya penting bagi operasional PLTA, namun juga menjadi denyut nadi kehidupan warga di 5 kabupaten.

Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk merawat DAS Serayu masih kurang. Nazrul menyayangkan pihaknya seolah jadi penanggung jawab tunggal atas berbagai permasalahan DAS Serayu, khususnya sedimentasi. 

“Padahal kita hanya mengelola di waduk, tengah, kita menerima kiriman sedimen dari hulu,”katanya

PLN Indonesia Power UBP Mrica mencatat, rata-rata sedimen yang mengendap di Waduk Mrica sebanyak 3,7 juta meter kubik per tahun. 

Sampai penghujung tahun 2024, total sedimen yang mengendap di Waduk Mrica sebanyak 133 juta meter kubik. 

Dengan 3 kapal dredger yang beroperasi tiap hari, pihaknya hanya mampu mengatasi sekitar 2 juta meter kubik per tahun. Sisanya, 1,7 juta meter kubik sedimen tertinggal dan mengendap di waduk. 

“Jadi ada saatnya nanti akan penuh,”katanya

Dengan keterbatasan alat dan sumber daya, upaya pengelolaan waduk dengan mengangkat sedimen akan berat jika faktor pemicu sedimentasi di hulu tak teratasi. 

Karenanya, pihaknya menggandeng stakeholder dan komunitas untuk memasifkan penanaman pohon di sepanjang DAS Serayu guna menekan erosi. 

Sejauh ini, sudah 420.325 bibit tanaman keras, termasuk aren dan kopi yang ditanam di 10 kecamatan di kabupatan Banjarnegara dan Wonosobo. 

“Kita juga melakukan kolaborasi dan pemberdayaan, misal sekolah lapang petani kopi dan pemberdayaan peternak kambing perah,”katanya

Solusi Urusan Perut

Kerusakan DAS Serayu sebenarnya disadari warga di kawasan hulu. Mereka sadar aliran Serayu adalah sumber energi terbarukan untuk memenuhi kenutuhan listrik nasional. 

Sayangnya pengetahuan itu tidak dibarengi upaya serius untuk menjaga DAS agar tetap berfungsi normal. 

Fajar Okta, warga Desa Batur Kecamatan Batur sekaligus Pengelola Komunitas Bukit Petarangan mengakui,  sedimentasi dipicu deforestasi akibat penebangan pohon secara liar untuk pembukaan lahan warga. 

Kondisi ini diperparah dengan penerapan pola pertanian yang tak memerhatikan kaidah konservasi. 

Penggunaan pupuk dan racun kimia yang tak terkendali membuat kesuburan tanah hilang hingga mudah tererosi.  Kebiasaan membuang sampah sembarangan juga merusak ekosistem DAS Serayu hingga mempercepat laju sedimentasi. 

“Tanah sudah gak sehat, sehingga mudah terbawa hujan ke Serayu,”katanya

Mengatasi degradasi lingkungan di sepanjang DAS Serayu yang meliputi sejumlah kecamatan bukan hal mudah. Apalagi isu tersebut bersinggungan dengan urusan perut yang sulit diajak kompromi. 

Kasus pembalakan liar untuk pembukaan lahan pertanian sulit ditanggulangi. Petani tak mungkin dilarang menanam holtikultura tanpa penghasilan pengganti. 

Tapi berkat perjuangan gigih Fajar dan komunitasnya, masalah pelik itu perlahan terurai.   

Pihaknya bekerja sama dengan PT Indonesia Power UBP Mrica berusaha memulihkan hutan dengan menanam pohon yang menghasilkan secara masif di lahan-lahan kritis. 

Pihaknya membawa isu krisis air bersih akibat deforestasi agar masyarakat lebih peduli.  Menyadari banyaknya sumber mata air yang hilang akibat deforestasi, warga akhirnya mau berpartisipasi. 

“Kita berjuang dengan masyarakat untuk kepentingan sumber air bersih. Kalau hutan rusak,  masyarakat tidak bisa konsumsi air bersih,”katanya

Pihaknya juga tak segan memidanakan para perambah hutan sebagai efek jera, bekerja sama dengan penegak hukum. Pihaknya sampai memproduksi pupuk organic sebagai solusi agar petani tidak bergantung pupuk kimia yang merusak. 

Dengan berbagai upaya terstruktur itu, ia mengklaim kasus pembalakan liar di wilayah Kecamatan Batur Dieng bisa terkurangi. 
 
Siapa sangka, misi penghijauan PT Indonesia Power  sinkron dengan kebutuhan para peternak di Kabupaten Banjarnegara

Gayung bersambut. Maman Fansyah, founder Koperasi Bima Lukar yang beranggotakan peternak bekerja sama dengan perusahaan negara itu untuk penanaman tanaman pakan di sepanjang DAS Serayu. 

Bagi peternak seperti Maman, biaya terbesar usaha ternak ada di pakan. Dengan menanam sendiri tanaman pakan, peternak bisa menghemat pengeluaran sehingga laba maksimal. 

“Yang ditanam adalah tanaman konservasi tapi bisa untuk pakan ternak, misal Kaliandra dan Indigofera,”katanya

Penanaman tanaman konservasi bernilai ekonomi, khususnya bagi peternak ini sekaligus menjadi solusi pemulihan DAS Serayu. 

Peternak yang merasa diuntungkan pastinya akan ikut merawat tanaman itu dan DAS Serayu. 

Maman dan komunitasnya kini mendirikan Kampung Ilmu Serayu Network untuk belajar konsep pertanian terpadu yang selaras dengan misi konservasi lingkungan, bekerja sama dengan PT Indonesia Power. 
Di situ, komunitas bukan hanya membahas bisnis pertanian, namun juga menyalakan semangat untuk merawat lingkungan, khususnya DAS Serayu.     

“Tanpa bilang ayo konservasi, kita langsung menanam untuk pakan ternak. Bicara dengan masyarakat itu harus ada hubungannya dengan perut,”katanya

Sementara itu, Akademisi Universitas Indonesia (UI) Imam Prasojo ikut menyoroti masalah sedimentasi Waduk Mrica yang mengancam operasional PLTA. 

Jika sedimentasi Waduk Mrica tidak teratasi, tidak menutup kemungkinan bendungan itu jebol hingga terjadi banjir bandang dan operasional PLTA Mrica terhenti. 

Bukan hanya melahirkan bencana, berhentinya PLTA akan menghambat target bauran energi terbarukan yang dicanangkan pemerintah. 

“Kita bergantung lagi ke batu bara,”katanya 

Karena itu, Imam Prasojo ikut getol memperjuangkan pemulihan lahan kritis yang membuat kondisi Waduk Mrica semakin memprihatinkan. 

Ia bersama komunitas pegiat lingkungan dan PT PLN Indonesia Power menggandeng lima kepala daerah yang dilintasi Sungai Serayu untuk menjaga keberlangsungan DAS Serayu. Hingga berikirim surat ke Presiden RI. 

Imam juga mendorong pemanfaatan limbah sedimentasi Waduk Mrica menjadi berbagai produk bernilai jual. Misal lewat kerja sama dengan pengrajin bata merah di Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana mengapresiasi ikhtiar akademisi dan para aktivis lingkungan dalam menjaga kelestarian Waduk Mrica dan pemulihan kawasan hutan.

Ia pun  mendukung wacana pemanfaatan sedimen Waduk Mrica untuk bahan baku bata merah para pengrajin di Banjarnegara

Ini bukan hanya bisa mendongkrak perekonomian warga melalui industri batu bata. Tapi juga bisa ikut mengurangi tingkat sedimentasi di Waduk Mrica. 

Ia juga tak menutup kemungkinan akan menggunakan material itu untuk pembangunan fisik di Banjarnegara.

"Jika memungkinkan, kami akan instruksikan agar bangunan fisik di Banjarnegara menggunakan batu bata produk dari Mrica," katanya.

20251023_penanaman bibit di hutan Patarangan_3
PENGHIJAUAN- Proses penanaman bibit di hutan Patarangan Kecamatan Batur, Dieng Banjarnegara oleh relawan.

Perbanyak PLTM

Sedimentasi menjadi masalah umum di hampir seluruh PLTA di bawah naungan PT PLN Indonesia Power UBP Mrica. 

Hanya, menurut Senior Manager PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica Nazrul Very Andhi, kondisi Waduk Mrica terbilang paling kritis. 

Selain mempertahankan operasional PLTA yang sudah ada, PT Indonesia Power UBP Mrica yang menjadi tulang punggung ketenagalistrikan nasional juga memperbanyak Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM). 

Selain untuk menambah kapasitas produksi listrik, keberadaan PLTM sekaligus bagian dari komitmen terhadap penggunaan EBT. 

Sejumlah PLTMH yang dikelola atau bekerja sama dengan UBP Mrica tersebar di berbagai daerah. Di antaranya PLTM Gunung Wugul, PLTM Siteki dan PLTM Plumbungan di Banjarnegara, serta PLTM Lambur dan PLTM Harjosari di Pekalongan. 

“PLTM ada yang mengelola PLN, ada juga swasta yang bekerja sama dengan PLN,”katanya

UBP Mrica sendiri mengelola 34 unit pembangkit yang tersebar di 9 kabupaten atau kota di Jawa Tengah dengan kapasitas terpasang 333.78 megawatt. 

Meskipun berkapasitas produksi sedikit, di bawah 10 megawatt, kontribusi PLTM dalam pemenuhan ketersediaan listrik cukup vital. 

Salah satu yang terbaru dibangun adalah PLTM Gunung Wugul yang beroperasi sejak tahun 2021. Pembangkit berkapasitas 2 x 1.5 MW itu memanfaatkan energi aliran air Sungai Urang di Kecamatan Banjarmangu.

Pembangunan PLTM Gunung Wugul berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Pengoperasian PLTM tersebut berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang masih dipakai unit pembangkit lain. 

Di sisi lain, pihaknya juga berharap proyek pembangunan PLTA Maung Banjarnegara yang sempat terhenti agar dilanjutkan. 

Baca juga: Membatik dibalik Jeruji, Aksi Support Women oleh Srikandi PLN Tebar Semangat Jelang Hari Pahlawan

Pembangunan PLTA Maung yang digadang mampu menghasilkan listrik 230 MW akan mendukung pemenuhan kebutuhan bauran energi dari EBT sebesar 23 persen, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN

Selain itu, keberadaan PLTA Maung juga bisa mengurangi laju  sedimentasi di Waduk Mrica. 

“Karena sedimennya ada yang tertahan di Maung, sehingga yang ke Waduk Mrica terkurangi,”katanya. (aqy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved