Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kecelakaan di Exit Tol Bawen

Kecelakaan di Bawen, Dishub: Rem Blong Tak Selalu Soal Teknis Kendaraan, Human Error Bisa Terjadi

Kecelakaan lalu lintas di traffic light Exit Tol Bawen kembali menjadi sorotan.

Tayang:
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Eka Yulianti Fajlin
KANALISASI KENDARAAN - Dishub Kabupaten Semarang dan instansi terkait telah melalukan kanalisasi di traffic light exit tol Bawen guna menekan fatalitas kecelakaan 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kecelakaan lalu lintas di traffic light Exit Tol Bawen kembali menjadi sorotan.

Kanalisasi kendaraan sudah diterapkan Dishub Kabupaten Semarang guna menekan fatalitas kecelakaan.

Namun, kecelakaan beruntun kembali terjadi melibatkan empat kendaraan pada Senin (4/5/2026).

Baca juga: Pemkab Kudus Tingkatkan Pengawasan Ternak Jelang Iduladha

Baca juga: PPPK Terlibat Kasus Perselingkuhan, Bupati Kendal: Langsung Pecat Tanpa Teguran

Kecelakaan beruntun tersebut dipicu kegagalan pengereman truk tronton yang kemudian menabrak tiga kendaraan di depannya.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang, Djoko Noerjanto menyebut, tidak adanya korban dari pengendara sepeda motor dalam kejadian tersebut menjadi indikasi awal keberhasilan sistem kanalisasi yang diterapkan. Meski demikian, kecelakaan tersebut tetap perlu menjadi bahan evaluasi.

Ia menilai, potensi kecelakaan masih ada mengingat karakteristik jalan menurun panjang yang rawan terjadi kegagalan pengereman.

Namun, menurut dia, kecelakaan bisa saja terjadi akibat human error.

"Nah, ini turunan yang panjang dari perambuan BPTD sudah memberi rambu. Nah, saya kok (melihat) perilaku kendaraan, sopir itu kan human error-nya mungkin sekitar 83 sampai 85 persen human error," jelasnya, Selasa (5/5/2026). 

Menurutnya, kecelakaan yang kerap dikaitkan dengan rem blong tidak selalu murni disebabkan oleh kerusakan teknis kendaraan. Ada banyak faktor lain yang turut berperan, seperti kelebihan muatan hingga keterampilan pengemudi dalam mengendalikan kendaraan di jalur menurun.

"Nah, dari teknis kendaraan laik jalan ataupun apa kalau memang diberi beban yang tinggi akhirnya kendaraan itu jadi tidak layak. Nah, (kecelakaan kemarin) belum tahu ya ini kan belum dianalisa kendaraan itu penyebabnya apa? Rem blong itu penyebabnya apa?," terangnya. 

Meskipun kendaraan dinyatakan layak secara teknis, sambung dia, kondisi di lapangan bisa berbeda jika kendaraan memiliki muatan yang berlebih atau tidak diimbangi dengan keterampilan supir. 

"Misalnya soal kelebihan muatan, lalu keterampilan sopir saat melintas itu juga perlu dipertanyakan. Pernah ada kasus sebelumnya, kendaraan kontainer mengalami masalah pada kampas rem. Setelah kami cek, ternyata uji terakhirnya pada 25 Agustus 2019. Itu jelas masuk faktor teknis. Namun untuk kejadian yang sekarang, kami masih belum mendapatkan data pastinya. Mudah-mudahan segera kami peroleh, sehingga besok bisa dibahas bersama untuk menentukan solusinya," paparnya. 

Selain itu, dia menyebut, pengaturan lampu lalu lintas di simpang tersebut memang perlu evaluasi. Saat ini, terdapat tiga siklus yakni dari arah Semarang, arah salatiga, dan arah tol. 

"Nah, memang kami belum punya solusi untuk yang dari dalam (tol) dibuang ke salatiga, tapi putarannya belum layak malah membahayakan di titik yang lain," paparnya. 

Untuk solusi jangka panjang, Dishub ingin menghilangkan perpotongan dari arah tol menuju ke Semarang. Langkah ini dinilai dapat menyederhanakan siklus lampu menjadi dua fase sehingga mengurangi antrean kendaraan saat lampu merah. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved