Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Puncak Kekeringan di Jateng Diprediksi Agustus-September 2026, Ini Langkah Antisipasi Distannak

Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah menyiapkan langkah antisipasi puncak kekeringan yang terjadi pada bulan Agustus-September 2026.

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/DOK PEMPROV JATENG
ANTISIPASI KEKERINGAN - Kepala Distannak Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengungkap berbagai langkah antisipasi kekeringan di Jateng, Kota Semarang, Selasa (12/5/2026). 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi puncak kekeringan yang diprediksi terjadi Agustus-September 2026.

Langkah tersebut di antaranya dengan mempercepat pengolahan lahan dan mendistribusikan bibit padi tahan kering.

Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga swasembada padi yang ditargetkan sekitar 10,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Baca juga: DPRD Jateng Ingatkan Risiko Kekeringan dan Kebakaran Hutan saat Kemarau 2026

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, ada empat langkah yang dilakukan dalam menghadapi kekeringan pada tahun 2026 ini meliputi percepatan pengolahan lahan.

Sesuai prediksi BMKG, puncak kekeringan Jateng terjadi pada Agustus-September 2026, sebelum memasuki masa puncak kekeringan, pihaknya bakal mendorong percepatan olah lahan.

“Kami mengejar air yang masih ada dengan melakukan percepatan olah lahan,” terang pria yang akrab disapa Frans ini.

Langkah tersebut didukung pula dengan sistem sepur.

Frans menyatakan, sistem ini berupa percepatan penanaman menggunakan sejumlah peralatan modern seperti penggunaan combine harvester saat panen lalu di belakangnya diikuti dengan traktor roda empat atau atau rotavator untuk langsung mengolah tanah.

Proses itu dibarengi pula dengan penyebaran pupuk dekomposer menggunakan drone dengan tujuan keasaman tanah dapat terjaga.

Selepas satu pekan kemudian, proses penanaman menggunakan transplanter.  

“Jadi kayak berurutan gitu, maka kita kasih nama sepur. Langkah ini untuk mempercepat proses tanam sehingga olah tanah bisadipercepat mumpung ada air,” tuturnya.

Frans mengatakan, langkah kedua berupa pemetaan dengan kolaborasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) atau Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA) untuk memetakan lokasi yang rawan kekeringan.

Menurutnya, daerah yang berpotensi kekeringan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin meliputi Jepara, Banjarnegara, Blora, dan Cilacap.

“Untuk kawasan pertanian yang jauh dari sumber air, nanti kami cari cara dengan pompa,” tuturnya.

Langkah lainnya, lanjut Frans, pihaknya bakal mencoba varietas yang tahan terhadap kekeringan semisal jenis Inpago (Inpari Gogo).

Baca juga: Distribusi Air Bersih Bencana Kekeringan di Jateng Terancam Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved