Semarang
Rupiah Melemah, Warga Semarang Mulai Lirik Emas dan Berlian sebagai Aset
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat di Kota Semarang.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat di Kota Semarang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan nilai tukar rupiah yang terus tertekan, sebagian masyarakat kini mulai melirik emas dan perhiasan sebagai alternatif penyimpanan nilai dibanding belanja barang konsumtif.
Fenomena itu turut dirasakan pelaku industri perhiasan modern di Jawa Tengah.
Baca juga: Paus Tutul Raksasa Terdampar di Pantai Nusawungu Cilacap, Warga Berupaya Selamatkan
Baca juga: Akademisi Soroti Perkembangan Palliative Care di Indonesia: Penting untuk Masa Depan
General Manager The Palace Jeweler Jelita Setifa menyebut, antusiasme masyarakat terhadap emas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur masih tergolong tinggi meski kondisi ekonomi sedang bergejolak.
Menurutnya, penguatan dolar biasanya membuat harga emas cenderung melemah.
Kondisi itu justru dimanfaatkan sebagian konsumen untuk membeli emas saat harga dinilai lebih rendah.
“Kalau dolar lagi tinggi biasanya emas melemah. Jadi sebenarnya buat konsumen yang sudah memahami pola itu, mereka melihat ini sebagai momentum membeli emas,” ujar Jelita saat ditemui di Semarang, Jumat (23/5/2026).
Ia mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir masyarakat mulai lebih selektif menggunakan uangnya.
Jika sebelumnya anggaran belanja banyak diarahkan untuk produk gaya hidup seperti tas, sepatu, hingga skincare, kini sebagian konsumen memilih membeli emas karena dinilai memiliki nilai jual kembali.
“Tanpa perlu edukasi yang terlalu besar, masyarakat sekarang sudah lebih pintar mengatur pengeluaran. Mereka mulai berpikir kalau beli barang konsumtif nilainya turun, sedangkan emas tetap punya value,” katanya.
Meski rupiah melemah, Jelita menilai daya beli masyarakat terhadap perhiasan emas tidak mengalami penurunan drastis.
Menurutnya, yang berubah justru pola pembelian konsumen. Sebagian pelanggan memilih tetap mempertahankan kadar emas yang sama, namun beralih ke produk preloved atau perhiasan bekas pakai agar harga lebih terjangkau.
“Yang biasa beli emas 24 karat tidak mau turun ke kadar lebih rendah. Akhirnya mereka memilih barang preloved supaya tetap bisa mempertahankan kadar emasnya,” jelasnya.
Ia mencontohkan, di gerai The Palace terdapat tiga kategori kadar emas yang dipasarkan, yakni 9 karat dengan kandungan emas 37,5 persen, kadar 75 persen, serta koleksi 24 karat yang mendekati emas murni.
Dari ketiga kategori tersebut, emas kadar 75 persen masih menjadi pilihan favorit masyarakat Semarang.
| Siapa Pemenang Indonesian Idol 2026? Wakil Semarang Celyna Grace Tampil Memukau di Grand Final |
|
|---|
| Organda Soroti Lonjakan Biaya Operasional, Tarif Angkutan Berpotensi Naik Hingga 40 Persen |
|
|---|
| Profil Handi Priyanto, Sekda Definitif Kota Semarang |
|
|---|
| "Semarang Mataharinya 2" ESDM Jateng Sebut Surya Jadi Sumber Energi Terbarukan Paling Potensial |
|
|---|
| Kronologi Warga Semarang Tembak Kreak Bersenjata Tajam, Awalnya Hanya Untuk Menakuti |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Warga-Semarang.jpg)