Minggu, 7 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Blora

Program Bongkar Ratoon Tebu di Blora Sisakan Persoalan, Ada Keluhan Petani 

Seorang petani tebu di Kabupaten Blora mengeluhkan belum lunasnya pembayaran bibit yang dibeli oleh supplier.

Tayang:
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Istimewa
PETANI TEBU - Petani tebu asal Desa Balong, Kecamatan Kunduran, Mudho, mengeluh pembayaran bibit tebu belum dilunasi oleh supplier.(Iqbal/Tribunjateng) 

Meski mengalami persoalan tersebut, Mudho mengakui program bongkar ratoon sangat membantu petani. 

Selain memperoleh bantuan bibit, petani juga menerima dana Hari Orang Kerja (HOK) sebesar Rp3,6 juta per hektar.

Mudho berharap program serupa tetap dilanjutkan karena mampu mendukung peningkatan produktivitas tebu di Blora.

"Tahun ini saya juga mengajukan bantuan lagi," ujarnya.

Sementara itu, supplier berinisial N mengakui masih memiliki kewajiban pembayaran kepada Mudho yang belum diselesaikan.

Menurut N, dana yang seharusnya digunakan untuk membayar petani terpakai untuk kebutuhan pribadi. 

"Iya, memang belum saya bayar sepenuhnya. Saya bilang ke yang bersangkutan, uangnya saya pakai dulu untuk kebutuhan saya. Karena saya juga tertipu, uang saya dibawa orang sebesar Rp120 juta," kata N.

Meski demikian, N berjanji akan melunasi seluruh kewajibannya setelah proses tebang tebu selesai dilakukan.

Di sisi lain, Direktur CV Deffaro Sembada, Deddy Purwantoro, menegaskan pihaknya telah menyelesaikan seluruh pembayaran kepada para supplier yang terlibat.

Deddy, mengatakan untuk pemenuhan bantuan bibit tebu di Kabupaten Blora, CV. Deffaro Sembada menggandeng sekitar 12 supplier yang berasal dari berbagai daerah, termasuk empat supplier dari Kabupaten Blora. Sisanya, menggandeng supplier dari Kudus, Pati, dan Sragen.

"Alhamdulillah kalau pembayaran ke supplier sudah selesai semua pelunasannya. Kami selesaikan pada bulan Januari. Ke semua supplier Deffaro sudah lunas," tegasnya.

Deddy mengaku baru mengetahui adanya laporan bahwa salah satu supplier belum menyelesaikan pembayaran kepada petani.

Menurutnya, pihak perusahaan telah meminta tim teknis lapangan untuk menelusuri informasi tersebut.

"Saya juga kaget sebenarnya, karena dari kami ke supplier kan sudah selesai lunas. Kalau bisa dipertemukan dengan mereka, bisa dibuktikan. Tidak ada masalah dari kami," terangnya.

Deddy menegaskan hubungan antara supplier dan petani berada di luar kewenangan perusahaan setelah pembayaran kepada supplier diselesaikan.

Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau supplier yang bersangkutan agar segera memenuhi kewajibannya kepada petani.

"Kalau dari supplier ke petani sifatnya sudah di luar kami. Kami hanya bisa mengimbau dan menyarankan agar segera dibayar," paparnya.

Diketahui, pada tahun anggaran 2025, CV. Defarro Sembada memegang proyek bongkar ratoon seluas sekitar 750 hektar di Kabupaten Blora.(Iqs)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved