Minggu, 7 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Blora

Program Bongkar Ratoon Tebu di Blora Sisakan Persoalan, Ada Keluhan Petani 

Seorang petani tebu di Kabupaten Blora mengeluhkan belum lunasnya pembayaran bibit yang dibeli oleh supplier.

Tayang:
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Istimewa
PETANI TEBU - Petani tebu asal Desa Balong, Kecamatan Kunduran, Mudho, mengeluh pembayaran bibit tebu belum dilunasi oleh supplier.(Iqbal/Tribunjateng) 

TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Seorang petani tebu di Kabupaten Blora mengeluhkan belum lunasnya pembayaran bibit yang dibeli oleh supplier dalam pelaksanaan program bantuan pemerintah berupa pengadaan bibit tebu untuk program bongkar ratoon tanaman tebu Tahun Anggaran 2025.

Meski program tersebut telah selesai dilaksanakan tahun lalu, persoalan pembayaran masih menyisakan keluhan di kalangan petani penerima manfaat.

Petani tebu asal Desa Balong, Kecamatan Kunduran, Mudho, mengaku hingga kini masih menunggu pelunasan pembayaran bibit tebu miliknya yang digunakan untuk menutup kekurangan kebutuhan tanam dalam program tersebut.

Mudho, merupakan Ketua Kelompok Tani Sido Makmur. Mudho menjelaskan, kelompok tani yang dipimpinnya memperoleh bantuan program bongkar ratoon seluas 7 hektar pada 2025.

"Untuk 2025 kemarin, kami mengajukan 7 hektar, dan Alhamdulillah disetujui," katanya, saat dikonfirmasi Tribunjateng.com, Minggu (7/6/2026).


Untuk memenuhi kebutuhan lahan tersebut, kelompok tani menerima bibit tebu varietas BL sesuai usulan yang diajukan.


"Bibitnya keseluruhan varietas BL sesuai dengan pengajuan," katanya.

Menurut Mudho, kebutuhan bibit untuk satu hektar lahan mencapai sekitar 8 ton atau setara satu rit pengiriman. Dengan luas lahan 7 hektar, total kebutuhan bibit mencapai sekitar tujuh rit.

Awalnya, pengiriman bibit berjalan lancar. Dia menerima tiga rit bibit dari oknum supplier berinisial N, rekanan yang digandeng CV. Deffaro Sembada.

Namun masalah muncul pada pengiriman berikutnya. Pada pengiriman kedua, sebanyak dua rit dikirim. Mudho menilai sebagian bibit yang dikirim tidak layak tanam.

"Karena usianya tidak layak, yang satu rit saya tolak dan akhirnya dibawa kembali," ujarnya.

Penolakan tersebut membuat kelompok tani mengalami kekurangan bibit hingga tiga rit. 

Agar proses tanam tetap berjalan, supplier N kemudian membeli bibit milik Mudho sebanyak tiga rit untuk menutup kekurangan tersebut.

"Bibit milik saya dibeli untuk menutup kekurangan, tetapi sampai sekarang belum dibayar lunas. Nomornya juga sudah saya hubungi, tetapi tidak merespons." 

"Harapannya yang masih kurang segera dipenuhi atau dilunasi," katanya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved