Media Siber
Waspada Risiko Kejahatan Siber Mengintai Ruang Digital Pelajar
Terutama pada anak-anak usia pelajar yang menjadi target dengan tingkat ketersinggungan terhadap internet dan media sosial lebih besar.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Potensi kejahatan siber sudah sepatutnya menjadi perhatian semua pihak. Terutama pada anak-anak usia pelajar yang menjadi target dengan tingkat ketersinggungan terhadap internet dan media sosial lebih besar.
Era digitalisasi memudahkan semua pihak melakukan sesuatu dengan cepat. Tidak hanya soal bertukar kabar dan saling berkirim pesan saja, digitalisasi dalam konteks luas bahkan jauh lebih besar dari itu.
Di mana semua informasi bisa digali dengan cepat, informasi bisa diberikan dengan mudah, hingga setiap informasi yang disebarkan justru memicu risiko kejahatan siber muncul. Berpotensi mengancam siapa saja tanpa pandang bulu, termasuk dari kalangan pelajar.
Baca juga: Kecintaan Literasi Anak-Anak Pati Diasah Lewat Panggung Lomba Bertutur
Baca juga: Mengenal Teknologi Dual Mode yang Disebut Bisa Jadi Solusi saat Harga BBM Naik
Program "BJP/BJS goes to school" kembali digelar PT Bhumi Jati Power menggandeng jurnalis yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jepara.
Tahun ini edukasi literasi dan jurnalisme digital menyasar siswa MA Matholiul Huda Bugel, Kecamatan Kedung, Jepara digelar, Rabu (17/6/2026).
Mereka diajarkan bagaimana cara menangkal berita hoaks, juga bagaimana mengabarkan informasi sesuai dengan fakta yang ada.
IT Leader BJP, Anas Nurdiansyah mengatakan, pelajar harus bisa bersikap bijak dalam menggunakan internet dan media sosial. Keduanya merupakan alat yang bisa membantu kebutuhan, namun juga berisiko munculnya kejahatan siber yang mengintai di ruang digital.
Kata dia, dampak negatif penggunaan media sosial diantaranya terjadi bullying, pefdofilia, penipuan online, judi, hingga doxing di media sosial hingga aksi bunuh diri.
Untuk mengantisipasi hal itu, dibutuhkan peran krusial orang tua, guru, dan pemerintah dalam bersama-sama menjaga para calon generasi penerus bangsa.
Anas menjelaskan, ancaman siber kerap terjadi dalam bentuk phishing melalui email, smishing dalam bentuk pesan teks, dan vishing yang memanfaatkan panggilan telepon.
Hal-hal yang berpotensi dan mudah dimasuki menyasar kebiasaan dalam menggunakan kata sandi lemah, mengakses wifi publik, serta oversharing menjadi penyebab utama kebocoran data.
Oleh karena itu, pengguna internet disarankan menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), mengatur akun menjadi privat, serta selalu melakukan verifikasi sebelum mengakses tautan yang diterima.
"Misal dapat undangan dari teman atau guru jangan asal klik ada mallware dan hacker mengakses semua data," terangnya.
Sebagai langkah antisipatif cepat, lanjut Anas, segera lakukan penggantian kata sandi atau melakukan factory reset apabila perangkat mengalami gangguan keamanan. Juga bisa melakukan pemblokiran perangkat jika mengalami kehilangan.
Manager CSR BJP, Ari Wibawa menegaskan, edukasi ini bagian dari tanggungjawab sosial dan lingkungan dengan mengajak pelajar mencari tahu potensi diri, selalu menginvestasikan waktu untuk hal positif, menyalakan potensi, tangguh menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab.
Ketua PWI Jepara, Septina Nafiyanti menerangkan, literasi merupakan bagian dari upaya PWI Kabupaten Jepara dalam memerangi penyebaran hoax.
Kali ini siswa diajak memahami jurnalisme di era digital, serta batasan-batasan yang harus dipahami dalam menyampaikan informasi di media sosial.
''Kegiatan ini sangat penting, mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi, membuat masyarakat termasuk siswa bisa berperan sebagai penyebar informasi, sehingga mereka harus tahu aturan dan batasannya,'' jelasnya.
Sekertaris PWI Jepara, Rhobi Shani menambahkan, perkembangan teknologi telah mengubah wajah jurnalisme. Di mana saat ini setiap orang dapat berperan sebagai pemberi informasi.
Meski demikian, tidak dipungkiri bahwa hadirnya media sosial menjadi bagian penting dalam ekosistem media yang menggabungkan unsur tulisan, suara, dan visual. Selanjutnya kemampuan menulis, mengolah audio, juga memproduksi foto atau video menjadi keterampilan dasar yang perlu dimiliki calon jurnalis.
Kehadiran media sosial membuka ruang bagi masyarakat agar terlibat langsung dalam citizen journalism, misalnya dengan melaporkan kegiatan di lingkungan sekitar.
Sebagai jurnalis, Rhobi mengingatkan pentingnya melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, sebelum nantinya ikut serta dalam menyebarkannya kepada orang lain.
Setiap informasi yang didapatkan harus melalui verifikasi ulang untuk menggali kebenaran informasi.
Menurut dia, jurnalisme digital memiliki peran penting di tengah banjir informasi yang terjadi saat ini. Di mana tidak semua informasi yang beredar merupakan sebuah fakta dan perlu dilakukan pengecekan.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih teliti dalam mengenali sumber informasi, termasuk mewaspadai situs atau portal online palsu yang meniru tampilan media resmi.
"Fungsi jurnalisme digital tidak hanya menyampaikan informasi yang akurat, tetapi juga melawan hoaks dan disinformasi, mengawasi kebijakan publik, serta menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah," tutur dia. (Sam)
| "Tolong Antar Istri Saya" Jadi Kalimat yang Bikin Istri Pria Ini Nyaris Dirudapaksa Teman Sendiri |
|
|---|
| Detik-detik Kecelakaan Beruntun Elf Ditabrak Truk Box Lalu Hantam Pemotor |
|
|---|
| Perkembangan Terbaru Kasus Korupsi Fadia Arafiq, KPK Periksa Belasan Saksi di Polres Pekalongan Kota |
|
|---|
| Tragis Sopir Pikap Tewas Tertindih Kendaraan Saat Ganti Ban, Diduga Dongkrak Tak Mampu Tahan Beban |
|
|---|
| Kirab 1 Suro Keraton Solo Sempat Tegang, Terjadi Adu Mulut antara Kubu Purbaya dan Mangkubumi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260617_EDUKASI-MEDIA-SIBER-Persatuan-Wartawan-Indonesia-PWI.jpg)