Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Semarang Jadi Pilot Project Pengobatan TBC Resistan Obat Hanya 6 Bulan

Kota Semarang menjadi pilot project pengobatan penyakit tuberkulosis resistan obat (TBC RO) dengan durasi hanya enam bulan. 

Tribunjateng/Eka Yulianti Fajlin
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Moh Abdul Hakam 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kota Semarang menjadi pilot project pengobatan penyakit tuberkulosis resistan obat (TBC RO) dengan durasi hanya enam bulan. 

Dengan pengobatan enam bulan, diharapkan para pasien TBC RO tidak sampai putus obat dan bisa segera sembuh. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, tata laksana pengobatan TBC RO kini lebih memang lebih singkat, dari semula dua tahun kini hanya enam bulan.

Baca juga: Pengobatan TBC RO Kini Hanya 6 Bulan, Tingkat Kesembuhan Lebih Baik dengan Efek Samping Ringan

Kota Semarang pun menjadi pilot project untuk uji pengobatan TBC RO selama enam bulan.

"Salah satu pilot projectnya adalah Kota Semarang untuk melakukan uji itu. Kasus TBC RO di Semarang antara 70 - 80an pasien," sebut Hakam, Minggu (8/9/2024). 

Hakam melanjutkan, pasien TBC RO paling banyak menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi dan RSUD Wongsonegoro. 

Beberapa pasien juga melakukan pengobatan di puskesmas. 

Menurutnya, jumlah pasien TBC RO saat ini semakin berkurang. Dengan tata laksana pengobatan yang lebih singkat, dia berharap, TBC tidak sampai menularkan ke orang lain. 

"Dengan perkembangan zaman dan teknologi, tadinya dua tahun jadi enam bulan," ucapnya. 

Hakam memaparkan, pasien TBC RO memang terus dilakukan pendampingan hingga hasilnya signifikan. Bahkan, pasien TBC RO sensitif obat yang sedianya enam bulan lebih singkat menjadi empat bulan. Kota Semarang juga menjadi pilot project TBC RO sensitif obat ini. 

Dia pun menjelaskan alasan tata laksana pengobatan TBC RO menjadi lebih singkat lantaran dari hasil penelitian, obatnya lebih signifikan mrmberantas kuman atau bakteri tuberkulosis. 

"Tidak harus membutuhkan waktu enam bulan, tapi cukup empat bulan saja. Ini berhubungan dengan tingkat keteraturan dari orang minum obat. Karena minum obat 6 bulan, risikonya orang jadi putus obat," paparnya. 

Diakuinya, kendala pengobatan pasien TBC RO yakni tidak teraturnya pasien dalam minum obat. Ini menjadikan treatment success rate atau tingkat keberhasilan pengobatan belum bisa mencapai 90 persen. 

Sebelumnya, Yayasan KNCV Indonesia menggelar workshop kampanye panduan pengobatan baru TBC RO berdurasi enam bulan di Semarang

Workshop di Semarang ini merupakan workshop kelima setelah sebelumnya digelar di Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved