Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Batang

Cuaca Ekstrem, Dinkes Batang Siagakan Tim Medis Hadapi Ancaman Banjir dan Longsor

Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Batang dalam beberapa hari terakhir meningkatkan risiko bencana alam.

Penulis: dina indriani | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Dina Indriani
CEK KESEHATAN - Petugas Dinkes Batang saat melakukan cek kesehatan.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang, dr. Ida Susilakami, menegaskan pihaknya telah memperkuat kesiapsiagaan tim medis agar mampu bergerak cepat saat terjadi insiden dan merupakan bagian penting dari tim siaga bencana yang dibentuk Pemkab Batang.   

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Batang dalam beberapa hari terakhir meningkatkan risiko bencana alam. 

Potensi banjir hingga tanah longsor kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya sektor kesehatan.  

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang, dr. Ida Susilakami, menegaskan pihaknya telah memperkuat kesiapsiagaan tim medis agar mampu bergerak cepat saat terjadi insiden. 

Baca juga: Transformasi Hijau bank bjb Dapat Apresiasi di Investing on Climate by Editor’s Choice Awards 2025

Baca juga: Kelangkaan Solar Subsidi di Pantura Brebes, Sopir Truk Rela Antre Satu Jam

Menurutnya, Dinkes merupakan bagian penting dari tim siaga bencana yang dibentuk Pemkab Batang.  

“Dalam waktu dekat, ancaman yang paling mungkin muncul adalah banjir dan longsor akibat hujan ekstrem. Itu yang harus benar-benar diwaspadai,” ujar dr. Ida, Sabtu (6/12/2025).

Untuk menghadapi kondisi darurat, Dinkes Batang mengandalkan sejumlah unit utama, mulai dari PSC 119, tim surveilans, hingga Emergency Medical Team (EMT).

Tim EMT, kata dr. Ida, sudah terbentuk di seluruh puskesmas.  

“Setiap puskesmas memiliki EMT dengan minimal lima personel, terdiri dari dokter, perawat, epidemiolog, tenaga farmasi, dan sopir ambulans,” jelasnya.  

Saat bencana terjadi, tugas Dinkes tidak berhenti pada evakuasi korban. Mereka juga memetakan risiko kesehatan yang biasanya muncul.  

“Banjir sering memicu penyakit diare, infeksi kulit, hingga leptospirosis. Itu yang kami antisipasi,” tambahnya.  

Leptospirosis, lanjut dr. Ida, menjadi penyakit menular yang paling rawan saat musim hujan.

Karena itu, tim medis diminta sigap melakukan deteksi dini dan penanganan cepat.  

Selain EMT, PSC 119 berfungsi sebagai tim gerak cepat. Mereka tidak hanya mengevakuasi korban ke rumah sakit, tetapi juga memberikan tindakan medis awal di lokasi.  

“Kadang ada korban luka yang butuh jahitan atau obat darurat. PSC 119 bisa langsung menangani,” ungkap dr. Ida.  

Meski tidak semua puskesmas beroperasi 24 jam, Dinkes memastikan seluruh unit layanan kesehatan sudah diinstruksikan untuk siaga penuh. 

Koordinasi dilakukan melalui grup komunikasi lintas OPD, puskesmas, dan Dinkes.  

“Begitu ada laporan bencana atau penyakit, tim akan bergerak sesuai tupoksi masing-masing,” pungkasnya.(din)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved