Jumat, 1 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Di Bawah Lereng yang Rapuh, Warga Batang Hidup dalam Bayang-Bayang Longsor

Setiap tetes yang jatuh kerap diiringi rasa cemas, takut tanah di belakang rumah tiba-tiba bergerak. 

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
BERI KETERANGAN - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, Rusmanto, memberikan keterangan saat ditemui di kantor. (TRIBUN JATENG/TITO ISNA UTAMA) 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Bagi warga yang tinggal di lereng perbukitan Kabupaten Batang, hujan bisa jadi sangat menakutkan.

Setiap tetes yang jatuh kerap diiringi rasa cemas, takut tanah di belakang rumah tiba-tiba bergerak. 

Di balik hamparan kebun sayur yang tampak hijau, tersimpan kenyataan pahit, puluhan ribu hektare lahan di Batang kini masuk kategori kritis dan rawan longsor.

Baca juga: Kasus DBD di Batang Turun, Petugas Lapangan Tetap Waspada Hadapi Cuaca Tak Menentu

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang tahun 2024 mencatat total luas lahan yang terdegradasi mencapai 67.260 hektare. 

Lahan tersebut terbagi dalam berbagai tingkat kerawanan, mulai dari agak kritis hingga sangat kritis.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Rusmanto, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga di wilayah dataran tinggi.

“Total lahannya ada 67.260 hektare, tetapi terbagi dari beberapa kondisi. Ada yang sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis,” kata Rusmanto kepada Tribunjateng, Kamis (8/1/2025).

Rinciannya, seluas 1.050 hektare masuk kategori sangat kritis, 3.826 hektare kritis, sekitar 9.500 hektare berpotensi kritis, dan 20.200 hektare tergolong agak kritis.

Wilayah-wilayah ini mayoritas berada di kawasan tangkapan air yang seharusnya menjadi benteng alami dari bencana.

Bagi petani di wilayah atas seperti Gerlang Kecamatan Blado, Bawang, Reban, hingga Bandar, lahan adalah sumber penghidupan sekaligus sumber kekhawatiran. 

Banyak lahan miring dimanfaatkan untuk hortikultura, ditanami sayuran semusim tanpa disertai pohon keras yang mampu menahan tanah.

“Kalau tidak ada tegakan-tegakannya, maka di situ berpotensi untuk terjadi kerusakan lingkungan,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat tanah menjadi rapuh. 

Saat hujan deras turun, air tak terserap dengan baik, melainkan langsung menggerus lapisan tanah di lereng. 

Risiko longsor pun mengintai permukiman warga yang berada di bawahnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved