Berita Batang
Di Bawah Lereng yang Rapuh, Warga Batang Hidup dalam Bayang-Bayang Longsor
Setiap tetes yang jatuh kerap diiringi rasa cemas, takut tanah di belakang rumah tiba-tiba bergerak.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Bagi warga yang tinggal di lereng perbukitan Kabupaten Batang, hujan bisa jadi sangat menakutkan.
Setiap tetes yang jatuh kerap diiringi rasa cemas, takut tanah di belakang rumah tiba-tiba bergerak.
Di balik hamparan kebun sayur yang tampak hijau, tersimpan kenyataan pahit, puluhan ribu hektare lahan di Batang kini masuk kategori kritis dan rawan longsor.
Baca juga: Kasus DBD di Batang Turun, Petugas Lapangan Tetap Waspada Hadapi Cuaca Tak Menentu
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang tahun 2024 mencatat total luas lahan yang terdegradasi mencapai 67.260 hektare.
Lahan tersebut terbagi dalam berbagai tingkat kerawanan, mulai dari agak kritis hingga sangat kritis.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Rusmanto, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga di wilayah dataran tinggi.
“Total lahannya ada 67.260 hektare, tetapi terbagi dari beberapa kondisi. Ada yang sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis,” kata Rusmanto kepada Tribunjateng, Kamis (8/1/2025).
Rinciannya, seluas 1.050 hektare masuk kategori sangat kritis, 3.826 hektare kritis, sekitar 9.500 hektare berpotensi kritis, dan 20.200 hektare tergolong agak kritis.
Wilayah-wilayah ini mayoritas berada di kawasan tangkapan air yang seharusnya menjadi benteng alami dari bencana.
Bagi petani di wilayah atas seperti Gerlang Kecamatan Blado, Bawang, Reban, hingga Bandar, lahan adalah sumber penghidupan sekaligus sumber kekhawatiran.
Banyak lahan miring dimanfaatkan untuk hortikultura, ditanami sayuran semusim tanpa disertai pohon keras yang mampu menahan tanah.
“Kalau tidak ada tegakan-tegakannya, maka di situ berpotensi untuk terjadi kerusakan lingkungan,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat tanah menjadi rapuh.
Saat hujan deras turun, air tak terserap dengan baik, melainkan langsung menggerus lapisan tanah di lereng.
Risiko longsor pun mengintai permukiman warga yang berada di bawahnya.
| Sawah Produktif Jadi Wisata Rob, PMI Batang Tebar Ribuan Bibit Mangrove dan Ikan di Denasri Kulon |
|
|---|
| Iming-iming Uang Ratusan Juta Rupiah Diduga Jadi Awal Mula Video Bandar Membara Bergetar |
|
|---|
| Lawan Stunting Lewat Dapur, Festival Gemarikan Batang Ubah Ikan Jadi Menu Kreatif Keluarga |
|
|---|
| Berkaca dari Kasus Little Aresha Jogja, DP3AP2KB Batang Pastikan 14 Daycare Berizin Layak Operasi |
|
|---|
| Limbah Batu Bara Jadi Penyelamat Laut Batang, Terumbu Buatan Tarik Hiu dan Lumba - lumba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260108_DLH-Kabupaten-Batang.jpg)