Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Hidup dalam Bayang-Bayang Longsor, Warga Lereng Batang Selalu Waspada di Tengah Ancaman

Bagi mereka, longsor bukan cerita baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG
LONGSOR - Warga bersama BPBD Batang melakukan pembersihan bekas longsor di ruas jalan Desa Rejosari - Sigemplong Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. (Dok BPBD Batang) 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Setiap musim hujan tiba, warga di wilayah atas Kabupaten Batang punya kebiasaan yang sama: sering menengok tebing di belakang rumah, memperhatikan tanah di halaman, dan memastikan tidak ada retakan baru yang muncul. 

Bagi mereka, longsor bukan cerita baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kepala BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, menyebut sejumlah kecamatan di wilayah atas seperti Bandar, Blado, Bawang, Reban, dan Wonotunggal merupakan daerah yang memiliki potensi tanah longsor cukup tinggi.

Baca juga: Di Bawah Lereng yang Rapuh, Warga Batang Hidup dalam Bayang-Bayang Longsor

“Secara geografis memang seperti itu. Longsor itu alamnya seperti itu, tugas kami mengedukasi,” kata Wawan kepada Tribunjateng, Selasa (13/1/2026).

Edukasi kebencanaan menjadi langkah utama BPBD, terutama karena relokasi warga dari daerah rawan longsor bukan perkara mudah.

 Idealnya, permukiman di wilayah dengan risiko tinggi memang dipindahkan. 

Namun di lapangan, hal tersebut sering kali tak bisa diwujudkan.

“Banyak warga sudah turun-temurun tinggal di sana. Kalau direlokasi, tidak mau,” ujarnya.

Satu contohnya terdapat di Desa Pranten, wilayah pegunungan yang kerap menjadi perhatian BPBD. 

Warga setempat sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan potensi longsor dan memahami betul tanda-tandanya.

“Kalau mulai ada retakan di tanah, itu sudah jadi tanda awal. Warga biasanya langsung waspada,” jelasnya.

Pada puncak musim hujan, sebagian warga bahkan memilih langkah aman dengan mengungsi sementara ke rumah saudara yang berada di lokasi lebih aman.

“Ada yang memilih mengungsi dulu. Nanti kalau sudah musim kemarau, mereka kembali lagi,” tuturnya.

Di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, tercatat ada delapan kepala keluarga yang tinggal di kawasan rawan. 

Meski demikian, mereka sudah memahami risiko dan langkah antisipasi yang harus dilakukan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved