Berita Batang
Pemkab Batang Kebut Penataan Ruang Publik dan Stadion, Bupati Faiz: Digarap Bertahap
Pemkab Batang mulai memfokuskan pembangunan ruang publik dan fasilitas olahraga sebagai bagian dari penataan wajah kota selama lima tahun.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Pemkab Batang mulai memfokuskan pembangunan ruang publik dan fasilitas olahraga sebagai bagian dari penataan wajah kota serta peningkatan kualitas pelayanan masyarakat selama lima tahun ke depan.
Selain mempertahankan fungsi ruang terbuka hijau (RTH), Pemkab Batang juga menyiapkan pembenahan fasilitas olahraga seperti GOR Abirawa, Stadion Sarengat, hingga penataan Lapangan Dracik yang saat ini masih dalam tahap proses.
Bupati Batang, M Faiz Kurniawan mengatakan, pembangunan daerah dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah.
Baca juga: Hasil TKA SMP Batang Jadi Catatan Serius, Disdikbud Siapkan Strategi Baru
• Kisah Pilu Calon Pekerja Kapal Tertipu Agen di Batang, Uang Raib dan Sertifikat Digadaikan
Karena itu, pemerintah tidak bisa menyelesaikan seluruh proyek dalam satu tahun anggaran.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur dasar tetap menjadi prioritas utama, namun sektor ruang publik dan fasilitas olahraga juga tetap berjalan agar masyarakat memiliki ruang aktivitas yang representatif dan nyaman.
“Semua titik kami fokuskan. Masa kerja kami lima tahun."
"Jadi tahun ini itu terlebih dahulu, tahun depan lagi."
"Ada GOR Abirawa, kemudian Stadion Sarengat juga kami perbaiki,” kata Bupati Faiz kepada Tribunjateng.com, Jumat (29/5/2026).
Dia menjelaskan, pembangunan daerah harus dibagi sesuai skala prioritas.
Saat ini Pemkab Batang masih mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan jalan dan jembatan yang nilainya mencapai hampir Rp30 miliar.
Sementara itu, alokasi untuk pengembangan RTH nilainya jauh lebih kecil karena menyesuaikan kondisi fiskal daerah.
“Jalan juga besar. Jalan dan jembatan hampir Rp30 miliar. RTH itu paling tidak sampai Rp5 miliar,” ujarnya.
Meski demikian, Bupati Faiz memastikan program penataan ruang publik tetap menjadi perhatian pemerintah daerah karena keberadaan RTH dan fasilitas umum dinilai penting untuk mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mempercantik kawasan perkotaan.
Dia juga menegaskan penataan Lapangan Dracik masih terus berjalan dan akan dikerjakan secara bertahap.
“Lapangan Dracik masih on process. Lima tahun masih lama, tenang saja,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala DPRKP Kabupaten Batang, Tatang Sontani mengatakan, fokus pengelolaan RTH pada tahun ini lebih diarahkan ke pemeliharaan fasilitas yang sudah ada dibanding pembangunan baru.
Menurut Tatang, keberadaan RTH saat ini bukan hanya menjadi ruang rekreasi masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian warga sekitar.
Karena itu, fasilitas yang sudah dibangun harus dijaga agar tetap berfungsi optimal.
“Rutin itu bagaimana mempertahankan fungsi RTH supaya tetap optimal. Misalnya lampu jangan sampai mati, itu juga ada anggaran pemeliharaan,” kata Tatang.
Dia menjelaskan, pengelolaan RTH dibedakan menjadi kegiatan rutin dan proyek pembangunan.
Kegiatan rutin mencakup perawatan harian seperti perbaikan lampu penerangan, kebersihan kawasan, hingga pemeliharaan taman.
Sedangkan pembangunan RTH baru masuk kategori proyek yang sifatnya menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah setiap tahunnya.
Baca juga: Bantuan Pangan untuk 104 Ribu KK di Batang Terus Disalurkan, Alokasi Naik 70 Persen
• Suyono Janjikan Pengadaan Tambahan Kapal untuk Atlet Dayung di Batang
Saat ini, kata Tatang, Pemkab Batang masih memprioritaskan pemeliharaan RTH Alun-alun Batang dan RTH Bandar agar tetap nyaman digunakan masyarakat, terutama pada malam hari.
Selain itu, beberapa wilayah lain seperti Wonotunggal dan Blado juga telah memiliki kawasan RTH yang membutuhkan perhatian pemeliharaan secara berkala.
Tatang mengungkapkan, anggaran pemeliharaan lampu penerangan RTH saat ini hanya berkisar Rp 50 juta hingga Rp75 juta per tahun.
Nominal tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal mengingat jumlah fasilitas penerangan yang harus dirawat cukup banyak.
“Kalau idealnya untuk pemeliharaan sekira 500 lampu, anggarannya Rp500 juta. Itu baru lampu saja,” ungkapnya.
Menurutnya, tingginya kebutuhan biaya pemeliharaan dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari usia pakai fasilitas hingga kerusakan akibat vandalisme dan tangan jahil.
Karena itu, DPRKP berharap masyarakat ikut menjaga fasilitas publik agar usia pemanfaatannya lebih panjang dan biaya perawatan tidak terus membengkak setiap tahun.
Tatang berharap, pembangunan RTH bisa dilakukan setiap tahun karena keberadaan ruang publik dinilai mampu menjadi magnet ekonomi bagi masyarakat sekitar, khususnya pelaku UMKM.
Namun di sisi lain, pemerintah daerah juga harus memperhitungkan beban biaya pemeliharaan jangka panjang sebelum membangun fasilitas baru.
“Harapan kami setiap tahun ada RTH baru. Karena RTH magnet ekonomi. Tapi melihat kemampuan daerah, yang berat justru biaya pemeliharaannya,” tutupnya. (*)
| Hasil TKA SMP Batang Jadi Catatan Serius, Disdikbud Siapkan Strategi Baru |
|
|---|
| Bantuan Pangan untuk 104 Ribu KK di Batang Terus Disalurkan, Alokasi Naik 70 Persen |
|
|---|
| Pemotongan Hewan Kurban Betina di Batang Masih Tinggi, Dispaperta Ingatkan Jaga Populasi Ternak |
|
|---|
| Jangan Cuma Jadi Penonton, Suyono Ajak Warga Gringsing Tangkap Peluang Hadirnya KITB |
|
|---|
| Suyono Janjikan Pengadaan Tambahan Kapal untuk Atlet Dayung di Batang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260529-_-Alun-alun-Batang.jpg)