Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Nasib Pelajar Dekat Labuan Bajo, Menantang Maut Tiap Berangkat ke Sekolah

Siswa di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, yang dekat dengan Labuan Bajo, harus menantang maut tiap berangkat sekolah.

Tayang:
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
Tribunjateng/bramkusuma
Jateng Hari Ini Sabtu 18 Oktober 2025 

TRIBUNJATENG.COM, LABUAN BAJO Pelajar di Kampung Jengok, Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menantang maut setiap berangkat ke sekolah.

Anak-anak itu menyeberang Sungai Wae Jari berarus besar itu melalui titian bambu yang dibangun secara swadaya oleh warga. Kondisinya jauh dari kata layak dan aman.

Terpeleset sedikit, mereka bisa terseret derasnya arus sungai.

Baca juga: Agoda: Penerbangan Internasional Baru Dorong Minat Wisatawan ke Labuan Bajo

Baca juga: FAKTA Terbaru Aksi Loncat 2 Pelajar SMAN 4 Tegal Berujung Maut di Sungai Gung: Sedang Gladi Resik

PERJUANGAN KE SEKOLAH - Setiap hari pelajar dari Kampung Jengok, Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, melintasi jembatan bambu. Mereka menantang maut saat hendak saat berangkat dan pulang sekolah.
PERJUANGAN KE SEKOLAH - Setiap hari pelajar dari Kampung Jengok, Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, melintasi jembatan bambu. Mereka menantang maut saat hendak saat berangkat dan pulang sekolah. (Dok Warga Jengok)

Apalagi saat musim hujan tiba, jembatan bambu tersebut menjadi sangat licin dan berbahaya.

 Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi anak-anak Kampung Jengok yang setiap hari berjuang menempuh perjalanan ke sekolah.

Ironisnya, wilayah itu berada tak jauh dari Labuan Bajo — destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) yang dikenal dengan fasilitas megah dan kemewahan.

Di tengah gemerlap pariwisata, Kampung Jengok justru masih tertinggal dan belum tersentuh pembangunan infrastruktur dasar.

“Jembatan ini masyarakat buat secara gotong royong. Ini satu-satunya akses keluar masuk kampung dan ke sekolah,” tutur Donatus Semidun (58), tokoh adat Kampung Jengok, Jumat (17/10).

Donatus mengatakan, jembatan bambu itu tidak hanya digunakan pelajar, tetapi juga menjadi jalur utama warga untuk menjual hasil bumi ke kota.

“Setiap hari kami hanya bisa berdoa semoga pemerintah mau membuka mata. Kami khawatir anak-anak terpeleset saat berangkat sekolah,” ujarnya.

Menurut Donatus, pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar, kini berubah menjadi perjuangan penuh risiko bagi anak-anak di kampungnya.

Ia berharap pemerintah pusat maupun daerah segera memperhatikan kondisi infrastruktur di wilayah mereka.

“Kami tidak minta banyak, cukup jembatan yang aman agar anak-anak bisa sekolah tanpa rasa takut,” imbuhnya.

Salah satu pelajar, Yufen Betran, mengaku tetap semangat bersekolah meski harus menyeberangi sungai setiap hari.

“Ini mungkin tantangan bagi kami. Tapi kami tetap semangat pergi ke sekolah untuk belajar,” kata Yufen.

Ia menuturkan, jembatan bambu itu aman saat musim kemarau, namun menjadi sangat berbahaya saat hujan.

“Kami harus jalan hati-hati sekali. Salah langkah sedikit bisa jatuh ke sungai,” ujarnya.

Yufen pun menyampaikan harapan langsung kepada pemerintah.

“Pak Presiden, tolong perhatikan kami. Kalau tidak bisa jembatan besar, minimal jembatan gantung,” harapnya. (Kompas.com) 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved