Opini
Waisak, Cahaya Kesempurnaan Prajna dan Maitri
Pencerahan yang penuh kesempurnaan tidak terikat oleh keinginan, kehilangan maupun kegelisahan.
Pesan Dharma Waisak oleh: YM Mahanayaka Chaokun Hui Siong
Purnama sidhi Waisak menerangi segenap penjuru,
Membawa wangi perdamaian ke seluruh semesta.
Di dalam perenungan yang agung,
Manusia menemukan kekayaan yang tak ternilai.
Bukan dari dunia luar,
Melainkan dari hati yang penuh keyakinan.
PENEMUAN pencerahan bagi setiap insan dalam renungan Waisaka Puja merupakan
sebuah berkah yang membawa manusia menuju kesejahteraan dan kedamaian sejati. Waisak diperingati untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Sakyamuni yang terjadi bersamaan pada bulan purnama sidhi. Ketiga peristiwa suci ini menandakan bahwa makhluk-makhluk yang hidup dalam kesesatan batin, yang penuh dengan cobaan, kini telah mendapatkan satu tuntunan jalan menuju
pandangan kebenaran yang ada di dalam kehidupan setiap insan.
Namun, jika kita merenungkan kondisi dunia saat ini, tampak betapa banyak tantangan yang menghadang. Polemik dunia yang tak kunjung usai, cuaca yang kian tidak menentu, pemanasan global yang melanda berbagai belahan bumi, hingga bencana alam — seperti gempa bumi dahsyat yang baru saja mengguncang Tiongkok — semuanya menjadi pengingat betapa rentannya kehidupan ini. Ditambah lagi perilaku manusia yang tidak merasa malu dan tidak bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, membuat kondisi kehidupan dunia semakin hari semakin kacau dan mengkhawatirkan.
Di tengah situasi yang penuh gejolak ini, umat manusia yang memiliki kebijaksanaan — terutama Madhyamaka-prajna (kebijaksanaan jalan tengah) — dengan pikiran yang murni dan hati yang seimbang, mampu menghadapi inflasi global yang semakin hari semakin menyelimuti umat manusia di berbagai penjuru dunia dengan ketakutan dan kecemasan.
Maka tantangan terberat bagi kita sesungguhnya adalah pengendalian diri atas tanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan yang kita lakukan di dalam ekosistem sosial kita bersama. Bilamana umat manusia tidak memiliki keyakinan yang kuat dan tidak mengiringi pengendalian diri dengan filsafat memberi, kita akan terjebak oleh rasa kekalahan atau kehilangan, sehingga terjadilah saling permusuhan, iri hati, dan kebencian di tengah masyarakat yang majemuk ini.
Maka melalui Waisak tahun ini, marilah kita bersama-sama menjadi manusia yang
bijak. Manusia yang tidak membangkitkan kesadaran kebijaksanaan akan selalu
ditutup oleh nafsu keserakahan yang tak pernah puas. Oleh karena itu, kita harus mampu menerima kenyataan di tengah masyarakat yang majemuk melalui perenungan yang tepat dan mendalam.
Hendaknya kita mengikuti perayaan Waisak bukan sekadar untuk mendapatkan berkah rezeki dan kekayaan, melainkan untuk peduli membangkitkan kesadaran
bijaksana yang terlelap di hati diri kita semua. Bilamana kita masih terikat oleh kondisi sengsara-bahagia, hilang-dapat, ini semua menunjukkan bahwa kita masih belum membangunkan kesadaran pencerahan di dalam batin.
Pencerahan yang penuh kesempurnaan tidak terikat oleh keinginan, kehilangan maupun kegelisahan. Bilamana kita masih melekat pada timbulnya perasaan penderitaan dan masih menaruh dendam kepada makhluk lain, maka kesadaran pencerahan kita sesungguhnya belum terbangun sepenuhnya.
Namun demikian, mereka yang selalu merasa malu ketika berbuat kesalahan dan selalu menunjukkan kebijaksanaan serta cinta kasih — inilah kebajikan yang
mengalir di dalam hati batin. Inilah yang disebut sebagai bibit Buddha yang tumbuh subur dalam keyakinan yang kuat.
Setiap tahun, di bulan Mei pada Purnama Sidhi, merupakan hari perenungan bagi umat manusia untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih luhur, yang memiliki jiwa seorang Bodhisattva. Bilamana kita mau memahami pikiran dan perasaan orang lain, serta tidak membalas kejahatan yang kita alami dengan kebencian, maka terwujudlah perdamaian dunia yang sejahtera dan penuh kasih.
Semoga cahaya rembulan Waisak memecah kegelapan batin. Manusia yang masih terjerumus dalam kekecewaan, merasa kehilangan, dan tidak mampu bersyukur, cenderung selalu menuntut dan meminta berkah dari luar dirinya. Sikap ini membuat dirinya menjadi miskin secara spiritual, karena ia hanya menunggu berkah dan pahala yang diterima atau diperoleh dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa kita menjadi manusia yang kehilangan arah tanpa pegangan pedoman hidup — lalu, bagaimana keberuntungan dan kebahagiaan bisa hadir di dalam diri kita?
Demikianlah, semoga perenungan yang kuat ini memancarkan cahaya perdamaian ke seluruh dunia. Semoga peperangan di dunia ini segera berakhir, semoga tidak ada manusia yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan, serta kehilangan harta benda — baik itu disebabkan oleh bencana alam, pemanasan global, maupun peperangan yang semakin hari semakin mengancam umat manusia.
Selamat Hari Trisuci Waisak. Semoga pancaran berkah Waisak selalu menyertai kita semua. (*)
YM Mahanayaka Chaokun Hui Siong adalah Presiden World Buddhist Sangha Council dan Ketua Pendiri Indonesia Buddhist Center Association serta Pimpinan Wihara Mahavira Graha se-Indonesia
| Antara Reputasi dan Keadilan: Menuntaskan Dilema Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus |
|
|---|
| Paradoks Kurs: Membalik Pelemahan Rupiah Menjadi Lompatan Ekonomi RI |
|
|---|
| Critical Literacy dan Paradox di Kalangan Digital Native |
|
|---|
| Lewat Membaca dan Diskusi, Book Club Semarang Perkuat Nilai Sosial Remaja |
|
|---|
| Anomali Geopolitik Global dan Tantangan PKB Menghadapi Pemilu 2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250526_buddha.jpg)