Horizzon
Tuhan yang Putus Asa
Semua tahu, bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar bukan semata karena cuaca
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Jika kita boleh berdiskusi dengan Tuhan, mungkin Dia hanya akan menjawab dengan satu kalimat, “Sampai kapan kesabaran kalian?”
Bagi sebagian orang di negeri ini bahkan lebih sibuk memoles anak ingusan yang kini menduduki posisi penting lantaran memperkosa konstitusi. Saya tahu, dengan alasan pencitraan, ini bocah juga sudah turun langsung melihat kondisi saudara-saudara kita di Aceh. Saya sengaja tidak bicara Sumatra Utara karena di provinsi itu juga nyaris terjadi bencana lingkungan, jika tiga pulau yang hendak direbut dari Aceh tak digagalkan Mualem.
Namun yang perlu kita tahu, bocah ingusan ini di setiap kesempatan selalu memiliki jawaban default atas semua pertanyaan dan atas semua problem yang dihadapi. Apa pun problemnya, jawabannya adalah AI, entah itu artificial intelligent, akal imitasi, atau memang dimaknai sebagai anak ingusan.
Yang jelas, Tuhan sudah putus asa, anak-anak bangsa ini harus lebih responsif dalam melawan keserakahan oligarki. Jika tidak semua, maka revolusi silent barangkali menjadi jalan paling rasional. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)