Berita Regional
Tebing 250 Meter Longsor Sapu Rombongan Wisatawan, Aida dan Winda Tewas Terseret 100 Meter
Tangis histeris memecah keheningan lereng perbukitan Curug Cileat, Sabtu (16/5/2026) siang.
Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SUBANG – Tangis histeris memecah keheningan lereng perbukitan Curug Cileat, Kampung Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (16/5/2026) siang.
Harapan keluarga untuk membawa pulang Aida Apriliani (22) dan Winda Limbong (20) dalam kondisi selamat pupus sudah.
Setelah hampir 24 jam tim SAR gabungan berjibaku melawan medan ekstrem dan cuaca buruk, kedua sahabat tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Baca juga: Warga Jembawan Pasang Sandbag untuk Cegah Longsor Susulan
Jasad keduanya tertimbun material longsor sedalam dua meter, terseret sejauh lebih dari 100 meter dari titik awal mereka dilaporkan hilang pada Jumat (15/5/2026) sore.
Berpegangan tangan menembus hujan
Tragedi ini bermula ketika rombongan yang terdiri dari lima wisatawan asal Karawang berangkat sejak Jumat pagi sekitar pukul 06.30 WIB untuk menikmati keindahan air terjun Curug Cileat.
Mereka adalah Aida Apriliani, Winda Limbong, Sinta Bela (28), Sari Nengsih (25), dan Sulistia (20).
Menurut penuturan Rifky, salah seorang rekan korban, mereka sempat menikmati suasana alam perbukitan sebelum akhirnya cuaca berubah ekstrem sekitar pukul 15.00 WIB.
Hujan lebat dengan intensitas tinggi tiba-tiba mengguyur kawasan Kecamatan Cisalak.
"Jam tiga sore mau pulang tapi kehalang hujan deras, jadi mereka nunggu reda dulu," ujar Rifky saat dihubungi, Sabtu (16/5/2026).
Ketika intensitas hujan mulai sedikit berkurang, rombongan memutuskan untuk segera turun melintasi jalur setapak yang sempit di bibir tebing perbukitan.
Karena kondisi jalan tanah merah yang sangat licin dan hanya muat untuk satu orang, kelimanya berjalan beriringan sembari saling berpegangan tangan erat.
Namun, takdir berkata lain.
Tiba-tiba, suara gemuruh air yang sangat deras terdengar dari arah atas tebing setinggi 250 meter.
Belum sempat mereka menyadari bahaya yang mengintai, dinding tebing tersebut runtuh membawa material tanah, batu, dan pepohonan.
"Katanya ada suara gemuruh, terus longsor turun. Yang tiga sempat lari, yang dua enggak sempat," ucap Rifky dengan nada lirih.
Sinta Bela, Sari Nengsih, dan Sulistia yang berada di posisi depan berhasil menyelamatkan diri dari runtuhan.
Sementara Aida dan Winda yang berada di posisi belakang langsung tersapu material longsoran yang mengarah ke aliran Sungai Cileat.
Operasi SAR yang dramatis
Kengerian detik-detik runtuhnya tebing 250 meter itu juga disaksikan oleh Elza, seorang wisatawan asal Purwakarta yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Sebelum bencana terjadi, Elza bahkan sempat berinteraksi dengan rombongan korban dan mengingatkan mereka untuk segera turun karena cuaca yang kian membahayakan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Subang, Udin Jazudin, mengonfirmasi kesaksian tersebut.
“Berdasarkan penuturan Elza kepada kami, longsor tersebut terjadi saat korban bersama rombongan beriringan melintasi jalan sempit. Namun tiba-tiba ada suara air yang terdengar sangat deras. Tak lama kemudian longsor jatuh, nah kedua korban tersebut langsung terbawa longsor. Dan di sana enggak ada jalan lagi, karena sudah tertutup longsor,” tutur Udin Jazudin kepada Kompas.com.
Upaya pencarian langsung dilakukan sejak Jumat sore oleh BPBD dan warga setempat.
Namun, setelah 5 jam menyisir area hingga pukul 19.30 WIB, pencarian terpaksa dihentikan sementara akibat hujan kembali turun yang memicu risiko terjadinya longsor susulan.
Pada Sabtu (16/5/2026) pagi, operasi SAR kembali dilanjutkan dengan skala yang lebih besar.
Sebanyak 120 personel gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, Damkar, Tagana, relawan, hingga warga setempat diterjunkan.
Medan yang dihadapi tim SAR sangat ekstrem.
Mereka harus berjalan kaki lebih dari dua jam menembus hutan, menuruni tebing curam, serta memasang tali pengaman di titik-titik rawan longsoran demi keselamatan petugas.
Kasi Operasi Kantor SAR Bandung, Mochammad Adip, menyebutkan bahwa tim harus membagi area pencarian menjadi dua regu untuk menyisir material longsoran yang membentang dari ketinggian 50 meter di atas jalan hingga 100 meter ke bawah jurang sungai.
Tangan menyembul di timbunan tanah
Titik terang pencarian mulai muncul pada Sabtu siang ketika petugas menemukan barang-barang pribadi milik korban, termasuk perlengkapan kosmetik yang terseret arus longsor.
Tak lama kemudian, mata petugas tertuju pada pemandangan memilukan: bagian tangan salah satu korban terlihat menyembul di antara tumpukan tanah merah yang curam.
"Jadi setelah melakukan pencarian tim menemukan barang kosmetik korban, kemudian tangan korban ada yang nyembul ke atas. Berdasarkan temuan itu tim memfokuskan di titik tersebut dan melakukan penggalian secara hati-hati," urai Udin Jazudin.
Menggunakan alat berat manual milik Basarnas, petugas melakukan penggalian secara perlahan.
Tepat pukul 11.23 WIB, jasad Winda Limbong (20) berhasil dievakuasi.
Tidak jauh dari titik tersebut, petugas juga menemukan jasad Alda Apriliani (22).
Kedua korban ditemukan di kedalaman sekitar dua meter.
Posisi jasad yang saling berdekatan memunculkan dugaan kuat bahwa kedua sahabat ini sempat berupaya saling menolong dan berpegangan tangan hingga detik terakhir sebelum tertimbun.
Jenazah kedua korban langsung dibawa menggunakan tandu menuju Posko SAR terpadu sebelum akhirnya dievakuasi ke RSUD Ciereng Subang menggunakan mobil ambulans.
Dengan ditemukannya kedua korban, operasi SAR di Curug Cileat resmi dinyatakan ditutup.
Duka keluarga
Suasana haru biru menyelimuti rumah duka Alda Apriliani di Kampung Sukamanah Timur, Desa Cikampek Barat, Kecamatan Campak, Karawang.
Ratusan pelayat berdatangan memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan berusia 22 tahun yang dikenal ramah, baik, dan bekerja di salah satu pabrik di Karawang tersebut.
Amud, ayah kandung dari Aida, tampak begitu terpukul.
Ia bercerita bahwa anak pertama dari dua bersaudara itu hanya berpamitan kepada ibunya sebelum berangkat menggunakan sepeda motor untuk menghabiskan libur panjang bersama teman-temannya.
Pihak keluarga baru menerima kabar duka tersebut selepas maghrib melalui telepon dari rekan korban yang selamat.
"Kalau ke saya sih enggak, cuma ke mamanya doang. Bilangnya mau main sama teman-temannya," ujar Amud lirih.
Di tengah kesedihan yang mendalam, Amud tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap pihak pengelola wisata Curug Cileat.
Menurutnya, tidak adanya papan imbauan rawan bencana atau sistem peringatan dini yang jelas membuat para wisatawan kurang waspada terhadap potensi bahaya longsor tebing di kawasan perbukitan tersebut.
"Yang saya sesalkan itu tidak ada pemberitahuan kalau di sana sering terjadi longsor. Kalau ada peringatan mungkin pengunjung bisa lebih waspada. Hanya bilang kalau hujan ya berteduh saja," ucap Amud dengan suara bergetar.
Kini, kedua korban telah diberangkatkan menuju tempat pemakaman umum setempat.
Tragedi di Curug Cileat ini menjadi alarm keras bagi pengelola wisata alam bebas di Jawa Barat untuk lebih memperketat mitigasi bencana dan memberikan informasi cuaca ekstrem demi keselamatan para pelancong. (*)
Baca juga: Derita Bertubi-tubi Markonah: Cucu Tewas Kecelakaan Rumah Diterjang Longsor
| Aksi Gagal, Begal Lindas Mahasiswi Unpad yang Jatuh saat Berusaha Selamatkan Diri |
|
|---|
| Keributan di Tempat Biliar Berujung Pria Tewas Dilempar dari Lantai 2 |
|
|---|
| Bocah 13 Tahun Tewas Ditikam Teman Sebayanya gara-gara Masalah Perempuan |
|
|---|
| Polisi Bedah Isi Kamar Tipu-tipu Daycare Little Aresha, Pantas Orangtua Terkecoh Titipkan Anaknya |
|
|---|
| Kronologi Pria Tewas saat Lerai Cekcok di Tempat Biliar, Dikeroyok dan Dilempar dari Lantai 2 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260518_wisatawan-yang-terseret-longsor.jpg)