Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Horizzon

Mimpi yang Dijarah  

Energi yang melatarbelakangi aksi penjarahan itu adalah balas dendam dari penjarahan atas mimpi dan masa depan

DOK
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

RASANYA saya harus meralat sebuah keyakinan bahwa sejumlah unjuk rasa yang berakhir rusuh beberapa waktu lalu adalah proses prematur dari jalan panjang revolusi.

Jadi, sebelumnya saya berdiskusi dengan sejumlah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang ada di Kota Semarang. Dari diskusi tersebut muncullah satu perdebatan yang tidak ada kata sepakat. Pertanyaan itu adalah apakah revolusi sudah waktunya atau belum. 

Dalam diskusi itu, saya dan kawan-kawan mahasiswa memang relatif sepakat bahwa aksi unjuk rasa yang berujung rusuh, pada pengujung Agustus lalu, bukanlah aksi organik. Kami sepakat bahwa ada orkestrasi di belakang aksi-aksi tersebut. 

Kami juga sependapat bahwa kemarahan anak-anak negeri ini tentang tata kelola negara yang acakadul ini nyaris melewati ambang batas kesabaran. Namun saya keukeuh bahwa rangkaian lahirnya revolusi belum cukup sehingga yang terjadi pada pengujung Agustus lalu murni gimmic dari kekuasaan. 

Namun apa yang terjadi Senin, 8 September 2025, pagi kemarin tampaknya mampu membuat keyakinan saya agak luluh. Pikiran saya terganggu justru dari apa yang saya alami sendiri di rumah. 

Ceritanya, anak saya, Galih Tentara Muhammad, kesiangan sehingga tidak berangkat kuliah. Alasannya sederhana, pada malam sebelumnya, ia terlalu larut pulang dengan alasan mengikuti kegiatan Karang Taruna di kampung bersama teman-temannya.  Alasannya cukup masuk akal dan biasanya saya memang tidak ambil pusing pada hal-hal begitu, apalagi yang dilakukan juga positif untuk ia dan entitasnya. 

Namun entah kenapa pagi itu saya tergerak untuk memintanya duduk dan mendengarkan apa yang ada di kepala saya. Barangkali ini juga didorong oleh celotehan emaknya yang ngalor-ngidul masih membahas perihal telat berangkat kuliah ini. 

Saya kemudian bercerita kepada Galih tentang ketidakadilan yang terjadi di hampir semua aspek kehidupan di negeri ini. “Seandainya masa depan yang sedang kau rencanakan adalah sebuah perlombaan lari, maka kamu dan sekira 90 persen anak-anak seusiamu berada di garis start. Sementara anak-anak lain yang dilahirkan oleh politikus, pejabat, dan mereka yang ada di lingkaran kekuasaan posisinya hanya sejengkal dari garis finish,” kata saya kepada Galih. 

“Seandainya kamu berhasil mengalahkan anak-anak lain yang sama-sama berawal dari garis start yang sama, maka peluang itu masih harus diupayakan dengan satu peluru untuk memastikan bahwa masih ada harapan tersisa dari mereka yang posisi awalnya hanya sejengkal dari garis finish,” lanjut saya.

Saya lebih detailkan tentang problem yang harus dihadapi oleh anak-anak seusianya. Pertama, persaingan untuk memperoleh kesempatan sekolah di perguruan tinggi. Saya sampaikan bahwa sekolah-sekolah telah sukses bermanuver dengan menciptakan banyak pintu bagi calon mahasiswanya untuk bisa merasakan pendidikan bagus di universitas bagus. 

Bukankah saat ini yang bisa sekolah di kampus-kampus macam UGM, UI, Unair dan kampus lainnya sudah melalui kluster-kluster tertentu? Kampus beralasan dengan membuka jalur afirmasi, jalur mandiri atau jalur apalah namanya. Fakta ini seharusnya disadari bahwa anak-anak pintar di negeri ini yang seharusnya memperoleh pendidikan yang baik harus kehilangan kesempatannya demi kursi yang didedikasikan pada anak-anak pejabat, politikus, dan mereka yang memiliki uang. 

Hal berikut yang juga saya contohkan adalah kesetaraan menjadi prajurit TNI/Polri yang faktanya tidak lagi mutlak dimiliki oleh mereka yang cerdas dan memiliki kesehatan jasmani yang cukup. Bukankah yang lolos menjadi anggota TNI/Polri lantaran karena seleksi murni hanya disisakan beberapa slot yang bakal disiapkan untuk di-publish bahwa proses seleksinya berlangsung fair? Sementara slot rata-rata memang disiapkan untuk mereka yang punya kuasa dan punya uang, meski tentu persyaratan minimal juga menjadi pertimbangan. 

Saya bilang ke Galih bahwa keadilan di negeri ini benar-benar sudah mati. Untuk itu, terlalu bodoh rasanya, jika anak-anak negeri lainnya membunuh peluangnya hanya lantaran alasan-alasan yang bodoh. 

Saya kemudian ceritakan bahwa negeri ini dikendalikan tidak lebih dari satu persen populasi. Satu persen inilah yang mengusai seluruh peluang masa depan. Sementara anak-anak petani, nelayan, guru, buruh dan lainnya nyaris kehilangan kesempatan untuk sekadar bermimpi menata masa depannya secara layak. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved