Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

6 Pemicu Demo Nepal hingga Perdana Menteri Undur Diri 

Penyebab demo Nepal... 2. Marah Usai 19 Pengunjuk Rasa Tewas Kerusuhan Senin di Kathmandu dan kota-kota lain memakan korban jiwa. Sebanyak

Penulis: Puspita Dewi | Editor: galih permadi
GEMINI AI
ILUSTRASI KERUSUHAN NEPAL - Kerusuhan Nepal berawal dari pemblokiran media sosial. Presiden dan Perdana Menteri mundur. Gambar merupakan buatan GEMINI.AI, Rabu, (10/9/2025). 

6 Pemicu Demo Nepal hingga Perdana Menteri Undur Diri 

TRIBUNJATENG.COM – Perdana Menteri Nepal, KP Sharma Oli, resmi mengundurkan diri setelah gelombang kemarahan rakyat yang dipicu bentrokan polisi dengan massa antikorupsi dan menewaskan 22 orang. 

Kantor perdana menteri menyebut, langkah mundurnya Oli diambil untuk memberi ruang bagi penyelesaian konstitusional atas protes besar-besaran yang dipelopori anak muda, usai isu korupsi merajalela dan sempat diperparah larangan media sosial yang kini sudah dibatalkan.

Unjuk rasa pecah di Kathmandu pada Senin lalu. Ribuan orang, sebagian besar mengidentifikasi diri mereka sebagai Generasi Z melalui spanduk dan poster, memenuhi jalan-jalan. 

Bentrokan dengan aparat tak terhindarkan, polisi menembakkan gas air mata, meriam air, hingga peluru tajam ketika massa mencoba memanjat pagar parlemen serta gedung resmi lain. Sekitar 200 orang luka-luka akibat kerusuhan tersebut.

Gelombang protes berlanjut keesokan harinya. Gedung parlemen dibakar, kantor Partai Kongres Nepal dihancurkan, bahkan rumah eks perdana menteri Sher Bahadur Deuba ikut diserang.

Sejumlah kediaman politisi lain juga menjadi sasaran amuk massa.

1. Larangan Media Sosial

BBC melaporkan, media sosial menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Nepal. Negara ini bahkan tercatat memiliki pengguna per kapita tertinggi di Asia Selatan. Awalnya, kericuhan dipicu larangan 26 platform populer, seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Pemerintah berdalih perusahaan gagal mendaftar ke Kementerian Komunikasi Nepal, namun publik menilai langkah itu bertujuan membungkam kampanye antikorupsi. Larangan akhirnya dicabut Senin malam, tetapi kebencian terhadap pemerintah sudah terlanjur meluas.

2. Marah Usai 19 Pengunjuk Rasa Tewas

Kerusuhan Senin di Kathmandu dan kota-kota lain memakan korban jiwa. Sebanyak 19 orang dilaporkan tewas akibat bentrok dengan polisi. Menteri Komunikasi Prithvi Subba mengatakan polisi terpaksa menggunakan pentungan, meriam air, dan peluru karet. Pada Selasa, tiga orang lagi meninggal, sehingga total korban tewas menjadi 22 jiwa. Rumah sakit setempat kewalahan menerima korban luka tembak dan peluru karet, sementara massa berkumpul menunggu kabar keluarga mereka.

3. Kerusuhan dan Penjarahan

Panglima militer Nepal, Jenderal Ashok Raj Sigdel, mengecam aksi massa yang dianggap merusak, menjarah, dan membakar properti. Ia menegaskan semua aparat keamanan, termasuk Angkatan Darat Nepal, siap turun tangan jika situasi makin parah. Meski begitu, Sigdel mengajak para pemuda berdialog. Protes kali ini unik karena tidak memiliki tokoh tunggal sebagai pemimpin, melainkan bermula dari seruan di media sosial. Satu-satunya pejabat yang mendukung secara terbuka adalah Wali Kota Kathmandu, Balen Shah, yang meminta demonstran tetap menahan diri.

4. Kekuatan Kolektif Generasi Z

Berbeda dengan aksi sebelumnya di Nepal, kali ini semangat kolektif Gen Z menjadi penggerak utama. Mereka menyebut diri sebagai bagian dari satu generasi yang bersatu menuntut perubahan. Kelompok mahasiswa dari berbagai kampus besar di Kathmandu, Pokhara, dan Itahari turut hadir, bahkan beberapa siswa sekolah menengah ikut turun ke jalan. Media sosial dipakai untuk menyebarkan ajakan aksi dan memperbarui informasi terkini.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved