Horizzon
Hilirisasi dan Tiket Konser
Apapun temanya, Gibran tampaknya selalu berbicara tentang hilirisasi ketika diminta untuk memberi solusi.
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
SEBAGAI Wakil Presiden yang oleh banyak pihak kapasitasnya sering dipertanyakan, Gibran Rakabuming Raka harus diakui jeli mengambil panggung sekaligus ruang yang mampu menarik perhatian publik. Secara konsisten dan terkadang sedikit memaksa, sulung dari Joko Widodo ini sukses membawa narasi hilirisasi sebagai personal branding yang menyertainya. Apapun temanya, Gibran tampaknya selalu berbicara tentang hilirisasi ketika diminta untuk memberi solusi.
Saya ingat betul, tema hilirisasi ini dibawa Gibran ketika ia mulai kampanye mendampingi Prabowo Subiyanto. Di luar prediksi, dengan tema hilirisasi, Gibran bahkan mampu tampil dan mengesankan dirinya sebagai sosok yang bisa disejajarkan dengan Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar, yang kala itu sama-sama calon wakil presiden.
Saat ini, setelah setahun persis dilantik menjadi orang nomor dua di republik ini, Gibran masih tetap konsisten dengan tema hilirisasi. Ia membawa tema ini di berbagai kesempatan, apa pun dan di mana pun, ketika ia hadir sebagai sosok wakil presiden.
Saat menjadi pemateri di kuliah umum di depan peserta P3N 25 dan P4N 68 Lemhanas RI, Gibran lagi-lagi menggunakan jurus hilirisasi. Saat itu salah satu peserta didik bertanya tentang problem dan peluang geopolitik yang dihadapi Indonesia. Dengan gaya yang khas, Gibran lagi-lagi menjawab pertanyaan itu menuju ke tema hilirisasi.
Lebih cerdas lagi, pada kesempatan tersebut Gibran mengawinkan tema hilirisasi—yang ia kuasai—dan kemenyan. Ia bicara soal hilirisasi kemenyan, komoditas yang seksi dan lagi-lagi mampu mencuri perhatian publik. Hilirisasi dan kemenyan ini kembali dibawa Gibran di kesempatan lain secara ciamik.
Lagi-lagi, saya harus menyebut Gibran jeli memanfaatkan keterbatasan pemehamannya dengan tema-tema yang seksi. Dari kata hilirisasi yang oleh Gibran dikawinkan dengan kemenyan ini, saya juga jadi ‘ngeh’ bahwa ekspor komoditas yang menjadi bahan baku parfum mewah ini angkanya cukup menarik. Meski jumlah kuantitasnya menurun dari tahun 2023 ke tahun 2024, namun nilainya cenderung naik, yaitu dari 49 juta USD pada 2023 naik menjadi 52 juta USD pada 2024.
Saya sepakat, apa yang disampaikan Gibran sama sekali tidak salah. Bahkan jika semua problem di negeri ini ujungnya dijawab dengan hilirisasi pun, tentu bisa-bisa saja. Bukankah hilirisasi memang menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan bangsa ini?
Kita semua hidup di negara yang memiliki kekayaan luar biasa. Dan justru kekayaan itulah yang membuat kita terlena sehingga merasa sudah cukup menikmati kekayan hasil bumi kita tanpa perlu memberikan nilai tambah.
Selain hilirisasi kemenyan, saya ingat betul, Gibran juga pernah mengemukakan apa yang ia sebut sebagai hilirasi digital. Ia sukses memberikan pemahaman pada kita bahwa tantangan teknologi harus dijawab dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang tidak gagap dengan teknologi. Hilirasi digital dimaksudkan Gibran sebagai upaya bagaimana bangsa ini mampu memperkaya ekosistem digital agar kita bukan hanya menjadi pasar, melainkan juga pemain digital di berbagai sektor.
Poinnya, meski banyak diragukan kapasitasnya, saya harus mengakui bahwa Gibran sukses sekaligus konsisten membawa narasi hilirisasi untuk tetap mencuri panggung nasional. Selain hilirisasi kemenyan, hal lain yang menarik saya adalah hilirisasi digital yang dipopulerkan oleh Gibran. Setidaknya, itu cukup untuk menutupi perannya yang kurang diperhitungkan oleh presiden yang justru lebih sering memberikan kepercayaan kepada AHY dan pembantunya yang lain ketika harus menggantikan Prabowo di urusan-urusan internasional.
Untuk hal ini, saya harus mengatakan bahwa apa yang menjadi narasi Gibran soal hilirisasi memang menjadi problem utama bangsa ini. Tema tersebut seolah gampang disampaikan namun sulit untuk diaplikasikan. Jika bangsa ini ditakdirkan kaya raya dan melimpah dengan sumber daya alam sehingga malas untuk memberikan nilai tambah.
Masalahnya, hal itu juga menular di proses kaderisasi kepemimpinan kita. Partai politik seharusnya juga melakukan proses hilirisasi alias mengolah kader-kader partai (baca: bahan mentah) dengan proses yang benar, bukan dengan memaksanya melalui jalan pintas di Mahkamah Konstitusi (MK).
Kita semua tentu ingin kualitas pemimpin kita benar-benar matang dan mampu menjadi nakhoda negeri yang kaya raya ini, bukan sekadar pemimpin yang perannya ibarat tiket konser, yang tak lagi punya arti saat konser (baca: Pilpres) usai. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)