Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Interasional

Mengenal Lebih Dekat Hari Monyet Sedunia, Ternyata Berasal dari "Lelucon" Mahasiswa

Setiap tahun, tanggal 14 Desember dirayakan sebagai Hari Monyet Sedunia (World Monkey Day).

Tayang:
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
Khaosod
ILUSTRASI monyet di India. Setiap tahun, tanggal 14 Desember dirayakan sebagai Hari Monyet Sedunia (World Monkey Day). 

TRIBUNJATENG.COM - Setiap tahun, tanggal 14 Desember dirayakan sebagai Hari Monyet Sedunia (World Monkey Day).

Momen ini mungkin terdengar unik dan lucu, tetapi di balik keriuhan meme yang beredar di media sosial, terdapat tujuan yang jauh lebih serius: meningkatkan kesadaran tentang primata dan isu-isu konservasi yang mereka hadapi.

Baca juga: "Cinta Monyet" Pemicu Kasus Viral Pengeroyokan Siswa SD di Probolinggo

Asal-Usul yang Tak Terduga

Berbeda dengan hari peringatan global lainnya yang diresmikan lembaga besar, Hari Monyet Sedunia lahir dari lelucon kreatif yang kemudian menjadi fenomena global.

Ide ini pertama kali dicetuskan pada tahun 2000 oleh dua seniman, Casey Sorrow dan Eric Millikin, saat keduanya masih menjadi mahasiswa seni di Michigan State University, Amerika Serikat.

Mereka secara iseng mencoret tanggal 14 Desember di kalender dengan tulisan "Hari Monyet Sedunia."

Lelucon internal ini kemudian diangkat oleh Casey dalam komik dan karya seninya.

Berkat penyebaran karya seni mereka dan dukungan komunitas pencinta primata, perayaan ini menyebar cepat di internet dan kini diakui secara luas oleh kebun binatang, organisasi konservasi, hingga institusi pendidikan di seluruh dunia.

Lebih dari Sekadar Lelucon: Tujuan Utama

Meskipun lahir dari humor, inti dari perayaan ini sangat penting. Hari Monyet Sedunia bertujuan untuk:

Meningkatkan Kesadaran: Menarik perhatian publik pada ribuan spesies primata, termasuk monyet, kera, dan lemur, yang tersebar di seluruh dunia.

Mendorong Konservasi: Menyoroti ancaman serius yang dihadapi primata, seperti kehilangan habitat akibat deforestasi, perdagangan hewan ilegal, dan perubahan iklim.

Mendukung Penelitian: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penelitian ilmiah untuk memahami perilaku primata dan upaya perlindungan mereka.

Mengajak Beraksi: Mendorong masyarakat untuk terlibat aktif, baik melalui donasi, dukungan terhadap suaka margasatwa, atau sekadar menyebarkan informasi yang benar.

Primata dalam Krisis

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved