Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Jalan dan Lingkungan Rusak, Warga Sumbang Banyumas Tolak Tambang Batu dan Pasir

Penolakan terhadap aktivitas penambangan batu dan pasir mencuat dari warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Tayang:
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Selasa 13 Januari 2026 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Penolakan terhadap aktivitas penambangan batu dan pasir mencuat dari warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Sejumlah warga protes secara terbuka atas aktivitas tambang yang dinilai telah merugikan masyarakat, terutama akibat kerusakan infrastruktur jalan dan dampak lingkungan yang semakin terasa.

Ketua Koordinator Forum Aliansi Masyarakat Sumbang Peduli Lingkungan, Eka Wisnu Iryanta, mengatakan, pemasangan spanduk di sejumlah titik strategis merupakan langkah awal menyatukan solidaritas warga Desa Gandatapa dan wilayah Sumbang secara umum.

Menurutnya, keberatan warga tidak hanya berkutat pada persoalan perizinan tambang, melainkan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Kegiatan ini mengawali bentuk solidaritas warga Gandatapa dan Sumbang. Yang kami pikirkan bukan sekadar menolak izinnya, tetapi dampak kerusakan akibat penambangan, terutama infrastruktur jalan," ujar Eka Wisnu, Senin (12/01/2026).

Sebelumnya puluhan warga yang tergabung dalam Forum Aliansi Masyarakat Sumbang Peduli Lingkungan sempat menggelar aksi bentang spanduk di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, Minggu (11/01/2026).

PENOLAKAN TAMBANG - Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Aliansi Masyarakat Sumbang Peduli Lingkungan menggelar aksi bentang spanduk di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, Minggu (11/1/2026). Ahli tambang Unsoed, Ir Adi Candra ST MTmengatakan sepakat bahwa cara penambangannya membahayakan para pekerja tambangnya.
PENOLAKAN TAMBANG - Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Aliansi Masyarakat Sumbang Peduli Lingkungan menggelar aksi bentang spanduk di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, Minggu (11/1/2026). Ahli tambang Unsoed, Ir Adi Candra ST MTmengatakan sepakat bahwa cara penambangannya membahayakan para pekerja tambangnya. (Istimewa)

Ia menambahkan, lalu lintas kendaraan berat pengangkut hasil tambang telah menyebabkan kerusakan jalan yang cukup parah.

Namun hingga kini, warga belum melihat adanya upaya perbaikan yang berpihak pada kepentingan masyarakat sekitar. Tak hanya infrastruktur, dampak lingkungan lain juga mulai dikeluhkan warga, khususnya terkait sumber daya air.

"Yang langsung dirasakan warga saat ini adalah debit air yang menurun drastis. Ini jelas mengkhawatirkan untuk keberlangsungan hidup masyarakat ke depan," katanya.

Sejumlah spanduk yang dibentangkan warga berisi tuntutan tegas agar aktivitas penambangan dihentikan.

Di antaranya bertuliskan, 'Jangan bohongi kami, jangan dzolomi kami dengan aspirasi yang terbeli, tutup tambang' serta 'Warga Desa Gandatapa jelas ora terima. Tutup tambang.'

Melalui aksi ini, warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah tegas.

Masyarakat menuntut agar aktivitas penambangan dihentikan apabila hanya menyisakan kerusakan lingkungan dan penderitaan warga tanpa tanggung jawab pemulihan yang jelas. 

Pihaknya sempat melakukan audiensi dengan mengundang dinas lingkungan hidup, ESDN Cabang Dinas Slamet Selatan. 

Sementara itu, Ketua Tim Pendirian Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Ir Adi Candra ST MT, mengatakan sepakat bahwa cara penambangannya membahayakan pekerja tambang.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved