Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Andra Semangat Berkeliling Jualan Kopi, Belajar di PKBM, Ia Ingin Hidup Mandiri 

Setelah berkeliling di sejumlah ruas jalan, akhirnya Andra memilih berhenti di tepi trotoar depan sebuah ruko kosong.

Tayang:
Penulis: Moh Anhar | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Moh Anhar
jl gajahmada sekarang ihb. 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - DI atas jok motor Honda Revo, Andra Julianto (18) mengangkut seperangkat alat seduh kopi sederhana, berkeliling Kota Purwokerto mencari tempat strategis untuk membuka lapak.

Pukul 09.00 WIB, ia mulai melaju dan berhenti di sebelah Rumah Sakit TNI, namun sayangnya diusir petugas karena tak boleh berjualan disitu.

Setelah berkeliling di sejumlah ruas jalan, akhirnya Andra memilih berhenti di tepi trotoar depan sebuah ruko kosong, Jalan Dr Angka dengan pohon rindang kanan-kiri, yang membuatnya teduh.

Andra mulai bongkar muat dan dipasangnya papan nama bertuliskan "Kopi Rakyat Sipil: Arabika Robusta Manual Brew mulai dari Rp 5000".

Kiprah PKBM di Banyumas Atasi Anak-anak Putus Sekolah, Kamali Bangga Peserta Didiknya Bisa Kuliah

Selesai menata peralatan seduh kopi, tiba-tiba seorang ojek online yang mangkal di depan ruko kosong itu datang menghampiri. Inilah disebut rezeki. Pembeli pertama datang, hendak membeli kopi hitam.

Andra pun semringah, mulai meracik pesanan kopi hitam.

Caranya buat sederhana, nyaris tak mencolok. Tapi aroma kopinya buat pengendara motor yang melintas menoleh dan penasaran dengan si penjual kopi dengan style casual kaus hitam dan berkacamata itu.

Namun sulit membayangkan, ternyata dibalik kesederhanaan itu, beberapa tahun silam hidup Andra dikenal sebagai seorang anak punk dengan rambut gondrong hidup di jalanan dan berpindah-pindah kota.

Andra kerap kali mendefinisikan diri sebagai anak jalanan, yang putus sekolah sejak kelas enam SD, dan mencari arti hidup di antara komunitas punk. Usianya sekarang masih muda, tapi sejak lulus SD ia masuk dalam komunitas yang memberikannya banyak pelajaran pendewasaan.

Memilih Jalanan
Andra tinggal di Desa Karangsalam, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Cerita itu bermula pada 2016, kala ia menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD). Setelah kelulusan itu, hidupnya justru berbelok arah, bukan menuju bangku SMP sebagaimana anak pada umumnya, melainkan jalanan jadi wadah baginya berekspresi. Modalnya hanya satu, yaitu nekat.

"Setelah lulus SD langsung di jalan," ujarnya.

Awal terjun di dunia jalanan, ia bahkan tidak benar-benar memahami apa itu komunitas punk. Ia tidak punya gambaran ideologi atau identitas tertentu. Namun alasannya nekat jadi anak jalanan sangat berdasar. Apabila diungkapkan secara kasar, ia merasa sudah muak dengan keadaan rumah. Ia merasa tak punya harapan dari lingkungan keluarganya sendiri.

Alasannya adalah perhatian yang ia tunggu-tunggu dari orangtuanya seolah tak pernah datang. Ia mengatakan dirinya sendiri mengala krisis eksistensi.

"Waktu kecil saya sering bertanya, Saya ini sebenarnya ngapain? Saya di sini buat apa? Di sekolah saya dituntut menjadi ini dan itu, sementara kenyataannya terasa berbeda. Saya merasa kurang apresiasi dan tidak menemukan diri sendiri," ucapnya kepada Tribun Jateng, Rabu (04/02/2026). 

Akhirnya ia memilih mencari lingkungan baru, mencoba hal-hal baru, demi satu perasaan sederhana yaitu bebas dan diapresiasi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved