Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Kontingen Prosiding UIN Saizu Angkat Budaya Lokal Banyumasan ke Kancah Internasional

Kontingen Prosiding UIN Saizu Angkat Budaya Lokal Banyumasan ke Kancah Internasional

Editor: Editor Bisnis
Ist
Kontingen prosiding UIN Saizu angkat budaya lolal banyimasan di kancah internasional 

 

TRIBUNJATENG.COM -  Raut wajah tegang namun penuh keyakinan dari Tubagus Naufal Ramadhan, Laeli Muflikhah, Asri Yulisawati, dan Yusuf Maulana tak bisa disembunyikan.

Dengan langkah penuh percaya diri, mereka memasuki Conference Room Lantai 1 Gedung J, Kampus 3 UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Rabu (1/10/2025).

Di panggung 3rd SeIBa International Festival itu, keempat mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto berdiri tegak membawa sebuah misi besar, memperkenalkan budaya Banyumasan ke dunia.

Perjalanan mereka untuk tiba di titik ini bukanlah hal yang instan. Berbulan-bulan lamanya, keempat mahasiswa itu ditempa dalam proses panjang. 

Bersama sang dosen pembimbing, Dr. Warto, mereka melewati hari-hari penuh diskusi, riset lapangan, membaca literatur, hingga menyusun artikel ilmiah dengan format IMRADICF yang rumit. Lelah tentu ada, tapi semangat mereka tak pernah surut.

“Awalnya terasa berat, tapi setiap kali kami membicarakan tentang Begalan, Lengger Banyumasan, Sedekah Laut Cilacap, dan bahasa Ngapak, selalu muncul energi baru,” ujar Laeli penuh semangat.

Tak berhenti di situ, proses berlanjut pada tahap yang lebih menantang, yakni menyusun presentasi dan melatih diri berbicara di depan publik. 

Sementara Yusuf mengaku, mereka bahkan merekam diri saat latihan, lalu menertawakan kekakuan masing-masing. “Dari situ kami belajar untuk lebih percaya diri,” kenangnya sambil terkekeh.

Namun, momen paling menyentuh justru hadir saat mereka berusaha menerjemahkan nilai-nilai budaya Banyumasan ke dalam bahasa akademis.

Ada rasa haru sekaligus bangga ketika mereka menjelaskan bahwa Begalan bukan sekadar prosesi pernikahan, melainkan simbol nasihat hidup.

Atau saat mereka menggambarkan Lengger Banyumasan sebagai tarian rakyat yang mencerminkan harmoni dan kegembiraan masyarakat.

Asri pun tak bisa melupakan pengalamannya saat meneliti Sedekah Laut di Cilacap. “Saya ikut larut dalam suasana doa bersama nelayan. Rasanya merinding melihat bagaimana masyarakat dengan tulus berbagi dan bersyukur. Itu yang ingin kami bawa ke forum ini, budaya bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan,” ucapnya lirih.

Hari itu, presentasi mereka berjalan lancar. Audiens menyimak dengan antusias, pertanyaan kritis bermunculan, dan tepuk tangan meriah menutup sesi. 

Bagi mereka, momen itu bukan hanya kemenangan akademis, melainkan bukti bahwa budaya lokal bisa mendapat tempat di panggung internasional.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved