Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Dari Baghdad ke Pesantren: Menghidupkan Kembali Semangat Baitul Hikmah

Prof. Kholid Mawardi mengajak kita menyalakan kembali semangat Baitul Hikmah melalui pesantren modern dan Ma’had Aly sebagai pusat ilmu dan hikmah

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Prof. Kholid Mawardi mengajak kita menyalakan kembali semangat Baitul Hikmah melalui pesantren modern dan Ma’had Aly sebagai pusat ilmu dan hikmah Islam Nusantara. 

Oleh: Prof Kholid Mawardi MHum, Guru Besar FUAH UIN Saizu Purwokerto

LEBIH dari seribu tahun yang lalu, di tengah gemerlap kota Baghdad yang menjadi jantung dunia Islam, berdiri sebuah pusat ilmu pengetahuan yang luar biasa: Baitul Hikmah, atau House of Wisdom. 

Di sinilah, di bawah naungan Khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma’mun, para ilmuwan dari berbagai bangsa dan agama berkumpul. Mereka menerjemahkan karya Aristoteles, membahas matematika India, mengamati bintang-bintang, dan mendebatkan filsafat Yunani. 

Baitul Hikmah bukan hanya perpustakaan besar ia adalah simbol peradaban terbuka, tempat ilmu tidak dibatasi oleh sekat agama atau bangsa. Di ruang-ruang marmer Baghdad itu, lahir konsep aljabar dari Al-Khwarizmi, eksperimen kimia dari Jabir ibn Hayyan, dan teori kedokteran dari Hunayn ibn Ishaq.

Ilmu pengetahuan menjadi jembatan budaya, dan Islam menjadi ruh yang menuntun sains untuk melayani kemanusiaan.

Ketika Pesantren Menyimpan Api yang Sama

Di Indonesia, kita punya warisan yang memiliki semangat serupa, meski dengan wajah berbeda: pesantren. Pesantren bukan sekadar tempat mengaji, tapi juga rumah kebudayaan. 

Dari cara santri menghormati guru, cara mereka berpikir sederhana namun mendalam, hingga tradisi tahlilan, ro’an, dan ngaji kitab kuning semuanya adalah bagian dari ekologi kebudayaan yang menanamkan nilai ilmu, adab, dan spiritualitas. 

Kalau Baghdad punya Baitul Hikmah, maka Nusantara punya pesantren. Keduanya lahir dari semangat yang sama: bahwa ilmu harus menumbuhkan kebijaksanaan (hikmah), bukan sekadar kepintaran.

Gagasan “The New Baitul Hikmah” dari Kemenag

Menteri Agama Nasaruddin Umar punya cita-cita besar: menjadikan pesantren Indonesia sebagai “The New Baitul Hikmah.” Artinya, pesantren tidak hanya mencetak ustadz dan kiai, tapi juga melahirkan ilmuwan, peneliti, dan inovator yang berakar pada spiritualitas Islam. 

Pesantren modern seperti Ma’had Aly menjadi contoh nyata. Di sini, santri tidak hanya mempelajari fikih dan tafsir, tapi juga mulai akrab dengan teknologi, riset sosial, bahkan diskusi tentang etika kecerdasan buatan. 

Bayangkan sebuah pesantren dengan perpustakaan digital, laboratorium sains, dan ruang diskusi yang hidup tempat kitab kuning dibaca berdampingan dengan jurnal ilmiah internasional. Inilah wajah baru Baitul Hikmah yang tumbuh di tanah Indonesia.

Ma’had Aly: Titik Temu Akal dan Wahyu

Ma’had Aly bisa menjadi pionir kebangkitan intelektual Islam berbasis budaya santri. Lembaga ini sudah memiliki karakter khas: disiplin spiritual, tradisi berpikir tekstual yang dalam, dan hubungan guru-murid yang akrab. Tapi kini saatnya Ma’had Aly menambahkan satu dimensi baru: inovasi ilmiah. 

Jika di Baghdad para ilmuwan menerjemahkan ilmu dari Yunani dan Persia, maka di Ma’had Aly para santri bisa “menerjemahkan” ilmu-ilmu modern ke dalam bahasa nilai Islam Nusantara. 

Mereka bisa meneliti etika lingkungan, keadilan sosial, atau pendidikan digital dari perspektif Islam. Dengan cara ini, pesantren tidak kehilangan ruhnya, tapi justru memperluas jangkauan hikmahnya.

Dari Kitab Kuning ke Cloud Library

Pesantren kini berada di era baru: era digital. Dulu santri membawa kitab kuning ke masjid, sekarang mereka bisa membuka kitab yang sama lewat ponsel. Dulu ilmu disampaikan lewat pengajian malam, kini bisa diakses lewat platform daring. 

Perubahan ini bukan ancaman, tapi peluang. Dengan teknologi, pesantren bisa membangun Baitul Hikmah digital perpustakaan terbuka, pusat riset daring, dan forum lintas pesantren untuk berbagi gagasan. Yang penting, semangatnya tetap sama: mencari hikmah, bukan sekadar informasi.

Spirit Budaya Santri: Akhlak di Atas Ilmu

Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah: nilai budaya santri. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, pesantren harus tetap menjaga ruh tawadhu’, ikhlas, dan adab. Nilai-nilai inilah yang menjadi benteng moral sekaligus pembeda. 

Kalau di universitas orang mengejar gelar, di pesantren ilmu dikejar demi keberkahan. Kalau dunia modern sibuk berdebat siapa paling pintar, santri sibuk berdoa agar ilmunya bermanfaat. Spirit inilah yang membuat pesantren pantas menjadi Baitul Hikmah baru pusat ilmu yang tetap berjiwa manusiawi.

Cahaya dari Timur yang Tak Pernah Padam

Dari Baghdad hingga Banyumas, dari Baitul Hikmah ke Ma’had Aly, dari kertas papirus ke layar digital api peradaban Islam terus menyala. Ia berpindah bentuk, berpindah ruang, tapi tidak kehilangan makna. 

Ketika pesantren mampu memadukan kitab kuning dan sains modern, doa dan data, akal dan wahyu, maka di situlah kebangkitan Islam bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang lahir dari bumi sendiri.  The New Baitul Hikmah bukan sekadar visi, tapi gerakan budaya: membangun kembali peradaban ilmu yang beradab, dari pesantren untuk dunia. (***)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved