Sabtu, 30 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Empat Aspek Fundamental Substantif dari Ibadah Kurban

Guru Besar UIN Saizu Prof. Hizbul Muflihin menjelaskan empat aspek fundamental ibadah kurban, mulai dari ketakwaan hingga kepedulian sosial.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Prof Dr HM Hizbul Muflihin MPd, Guru Besar Administrasi Pendidikan UIN Saizu Purwokerto 

Oleh : Prof Dr HM Hizbul Muflihin MPd, Guru Besar Administrasi Pendidikan UIN Saizu Purwokerto

IBADAH kurban pada Hari Raya Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Di balik pelaksanaannya, terdapat nilai-nilai mendalam tentang ketakwaan, pengorbanan, dan kepedulian sosial yang diwariskan Nabi Ibrahim AS. Keteladanan beliau bersama Nabi Ismail AS dan Siti Hajar menjadi pelajaran penting bagi umat Islam dalam menghadapi kehidupan modern yang penuh tantangan moral dan sosial.

Allah SWT berfirman: “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).

Dari ibadah haji dan kurban, terdapat empat aspek fundamental yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Meninggalkan yang Haram dan Menjalankan yang Halal

Pelajaran pertama dari ibadah kurban adalah pentingnya meninggalkan segala yang haram dan membiasakan diri menjalani kehidupan secara halal. Pakaian ihram dalam ibadah haji melambangkan kesederhanaan, persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT, serta kesiapan meninggalkan kesombongan dan kepentingan duniawi.

Nilai ini sangat relevan di tengah kehidupan modern ketika banyak orang rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan jabatan, kekuasaan, atau keuntungan materi. Padahal Allah SWT telah memperingatkan:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil...” (QS. Al-Baqarah [2]: 188).

Ibadah kurban seharusnya menjadi momentum memperkuat integritas dan kejujuran dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara memperoleh dan menggunakan harta secara benar.

Bergerak untuk Kebaikan dan Mau Berkorban

Ibadah haji mengajarkan bahwa seorang muslim harus aktif bergerak dan berjuang memperbaiki kehidupan. Seluruh rangkaian ibadah haji dipenuhi dengan aktivitas, mulai dari thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah. Semua itu menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan perjuangan dan kerja nyata, bukan sikap pasif.

Spirit ini diperkuat melalui ibadah kurban yang mengajarkan keikhlasan dalam berbagi dan mengalahkan ego pribadi demi kemaslahatan bersama. Allah SWT berfirman: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108]: 2).

Dalam kehidupan sosial, semangat berkorban dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Menjadikan Masjid sebagai Pusat Pergerakan Umat

Aspek penting berikutnya adalah menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat. Dalam pelaksanaan ibadah haji, masjid menjadi pusat aktivitas spiritual dan sosial jamaah. Hal ini menunjukkan bahwa masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, persatuan, dan penguatan moral masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah..., salah satunya adalah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di era digital saat ini, peran masjid menjadi semakin penting sebagai benteng moral generasi muda. Kedekatan dengan masjid dapat membangun karakter, memperkuat ukhuwah, serta menjaga umat dari pengaruh negatif yang merusak nilai-nilai keislaman.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved