Sabtu, 30 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Talkshow Ahmad Tohari di UIN Saizu Soroti Matinya Kepakaran dalam Cerminan Sastra dan Budaya

Talkshow Ahmad Tohari di UIN Saizu soroti matinya kepakaran di era digital serta pentingnya literasi dan pelestarian budaya lokal.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Talkshow Ahmad Tohari di UIN Saizu soroti matinya kepakaran di era digital serta pentingnya literasi dan pelestarian budaya lokal. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Talkshow Pendidikan bertema “Suara yang Tak Lagi Didengar: Matinya Kepakaran dalam Cerminan Sastra dan Budaya” pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium UIN Saizu Purwokerto.

Kegiatan ini menghadirkan sastrawan sekaligus budayawan nasional Ahmad Tohari sebagai narasumber utama.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Dakwah UIN Saizu, Dr. Ahmad Muttaqin.

Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Mona Indira, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Saizu yang juga merupakan Duta Perpustakaan UIN Saizu.

Talkshow tersebut digelar sebagai respons terhadap fenomena sosial di era digital yang dinilai semakin menggeser peran kepakaran.

Masyarakat saat ini cenderung lebih mudah mempercayai opini figur populer atau viral di media sosial dibandingkan pandangan para ahli di bidangnya.

Melalui pendekatan sastra dan budaya, DEMA Fakultas Dakwah mencoba menghadirkan ruang refleksi akademik bersama Ahmad Tohari terkait dampak fenomena tersebut terhadap pendidikan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pemaparannya, Ahmad Tohari menyoroti kebiasaan generasi muda yang semakin bergantung pada gawai dan arus informasi digital yang tidak selalu memberikan manfaat positif.

“Sebagai anak muda sekarang, harus bisa mengurangi scroll handphone yang kadang tidak bermanfaat, dan justru banyak mudharat jika tidak dimanfaatkan dengan baik, salah satunya banjir informasi yang ada di mana-mana dan bisa membuat kita tidak tenang. Untuk itu, cara paling ampuh menghadapi banjir informasi dengan mengurangi ketergantungan handphone,” tegas Ahmad Tohari.

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut juga menekankan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah kuatnya pengaruh budaya luar yang berkembang melalui media digital.

Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya Auditorium UIN Saizu yang dihadiri mahasiswa, pelajar SMA, dosen, pegiat sastra, hingga masyarakat umum.

Banyak peserta mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya literasi, budaya, dan sikap kritis dalam menghadapi perkembangan informasi saat ini.

Salah satu peserta, Alvidin, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah semester 4, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.

“Menurut saya, acara ini relevan sekali dengan anak muda sekarang, di mana sesuai amanat Abah Tohari bahwa adanya dominasi pemikiran kebarat-baratan bahkan mengancam budaya kita sendiri. Jadi, dengan kondisi tersebut anak muda memikul tanggung jawab peradaban Indonesia dengan melestarikan budaya,” ujarnya.

Suasana talkshow semakin hangat ketika peserta diberi kesempatan berdialog langsung dengan Ahmad Tohari.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved