Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Renungan Ramadan, Dekan Syariah UIN Saizu Ajak Umat Optimalkan Akal untuk Bersyukur

Dekan Syariah UIN Saizu ajak umat Islam optimalkan akal untuk tafakur atas nikmat Allah agar tumbuh syukur dan cinta kepada-Nya.

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Dekan Syariah UIN Saizu ajak umat Islam optimalkan akal untuk tafakur atas nikmat Allah agar tumbuh syukur dan cinta kepada-Nya. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Supani mengajak umat Islam untuk lebih mengoptimalkan akal dan pikiran dalam merenungkan berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.

Melalui perenungan tersebut, seseorang diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur sekaligus memperkuat kecintaan kepada Allah. P

esan tersebut disampaikan Prof. Supani dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto, yang mengangkat tema pentingnya tafakur atau perenungan terhadap nikmat Allah sebagai jalan meningkatkan kualitas spiritual selama bulan suci Ramadan.

Dalam pemaparannya, Prof. Supani menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifatullah fil ardh atau wakil Allah di bumi.

Oleh karena itu, Allah memberikan berbagai fasilitas kepada manusia, mulai dari fisik hingga kemampuan berpikir, yang semuanya harus dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Di antara fasilitas yang Allah berikan kepada manusia adalah tubuh yang dapat digunakan untuk beraktivitas serta akal dan pikiran yang ada di dalam kepala kita. Semua itu seharusnya digunakan dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.

Menurut Prof. Supani, salah satu fungsi utama akal manusia adalah melakukan tafakur atau perenungan.

Ia mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa merenung sesaat lebih baik daripada ibadah sunnah selama 60 tahun.

Namun, kata dia, pesan utama dari hadis tersebut bukan terletak pada lamanya ibadah, melainkan pada pentingnya memaksimalkan fungsi akal untuk memahami kebesaran dan nikmat Allah.

“Ketika seseorang merenungkan nikmat Allah, maka dari perenungan itu akan lahir rasa syukur dan cinta kepada Allah SWT,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan pandangan para ulama yang menyebutkan bahwa tafakur terhadap nikmat Allah akan melahirkan dua hal penting, yaitu syukur dan mahabbah (cinta kepada Allah).

Lebih lanjut, Prof. Supani mengingatkan bahwa nikmat Allah sangatlah banyak dan tidak mungkin dihitung oleh manusia.

Nikmat tersebut tidak hanya berupa karunia yang melekat pada diri manusia, seperti kesehatan, kecerdasan, dan anggota tubuh yang berfungsi dengan baik, tetapi juga berbagai kenikmatan di luar diri manusia.

“Jika kesehatan mata, kesehatan otak, dan kesehatan fisik itu dinilai dengan uang, tentu tidak ada yang mampu menghitung berapa nilainya,” katanya.

Hal tersebut, lanjutnya, juga ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat yang diberikan Allah SWT.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved