Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Dosen FTIK UIN Saizu DR Enjang Burhanuddin Yusuf: Ramadan Ajarkan Seni Mensyukuri Hidup

Dr. Enjang Burhanuddin Yusuf sebut Ramadan sebagai madrasah spiritual yang mengajarkan manusia mensyukuri hidup.

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Dr. Enjang Burhanuddin Yusuf sebut Ramadan sebagai madrasah spiritual yang mengajarkan manusia mensyukuri hidup. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Dosen FTIK Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, DR Enjang Burhanuddin Yusuf mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikannya Dr. Enjang saat memberikan tausiyah dalam program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto.

Dia menekankan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bersyukur, bukan dari banyaknya harta atau materi yang dimiliki.

Dalam ceramahnya, Dr. Enjang menjelaskan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk memahami makna kenikmatan secara lebih mendalam.

Menurutnya, saat berbuka setelah menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 14 jam, seteguk air terasa sangat nikmat, bahkan tanpa harus disertai makanan mewah.

“Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa lauk pauk yang paling enak itu bukan sate atau ayam goreng. Ketika kita benar-benar lapar, setetes air saja sudah terasa begitu nikmat,” ujarnya.

Dia menegaskan, puasa merupakan madrasah spiritual yang membentuk karakter manusia agar lebih bersyukur.

Kebahagiaan, lanjutnya, tidak harus menunggu seseorang memiliki segalanya.

Hal-hal kecil dalam kehidupan bisa menjadi sumber kebahagiaan apabila disertai rasa syukur.

Mengutip hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, ia menyampaikan pesan penting tentang makna kekayaan sejati.

“Rasulullah bersabda, ‘Laisal ghina ‘an katsratil ‘aradh, walakin al-ghina ghina an-nafs.’ Kaya itu bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi kaya adalah hati yang merasa cukup,” jelasnya.

Menurut Dr. Enjang, banyak orang kehilangan rasa syukur karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Dia menyinggung falsafah Jawa “urip iku sawang sinawang” yang berarti kehidupan tidak semestinya dijalani dengan iri dan membandingkan diri secara berlebihan.

“Sering kali orang merasa gelisah bukan karena kekurangan, tetapi karena melihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih. Padahal rasa syukur itu tumbuh ketika kita mampu melihat nikmat dalam diri kita tanpa perlu membandingkannya,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan akhlak sehari-hari.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved