Kebudayaan
Ironi Karawitan Jawa: Animo di Luar Negeri Justru Lebih Tinggi
Di tengah gempuran musik populer, karawitan Jawa kerap dipandang sebagai seni pinggiran di negeri sendiri.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah gempuran musik populer, karawitan Jawa kerap dipandang sebagai seni pinggiran di negeri sendiri. Namun di saat yang sama, justru diminati di luar negeri.
Fenomena ini disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Widodo, M.Sn., sebagai profesor bidang seni budaya karawitan Jawa, usai dikukuhkan, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, minat terhadap karawitan di dalam negeri memang tidak sebesar seni modern.
Meski demikian, seni tradisi ini tetap memiliki basis peminat yang stabil.
Baca juga: Jateng Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2026, Inilah Venue dan Rangkaian Acaranya
Baca juga: Sosok Pencuri 4 Sapi di Brebes, Ternyata Karyawan Korban
“Kalau melihat kepeminatannya sebenarnya bagus. Memang tidak seperti seni populer, tapi karena ini seni tradisi, sifatnya ajeg,” ujarnya.
Widodo menilai, kondisi berbeda justru terlihat di kancah internasional. Karawitan berkembang pesat dan diminati secara luas di berbagai negara.
Sebagai Sekretaris Jenderal Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI) Pusat, ia mengungkapkan bahwa komunitas gamelan kini tersebar hampir di seluruh dunia, mulai dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Australia dan Selandia Baru.
“Sekarang hampir di seluruh dunia ada gamelan. Kalau di sini tidak dipedulikan, di sana tetap hidup,” katanya.
Ia menambahkan, ketertarikan masyarakat mancanegara tidak hanya pada aspek musikal, tetapi juga nilai filosofis yang terkandung dalam karawitan Jawa.
Di tengah kehidupan modern yang cenderung materialistik, banyak masyarakat global justru mencari ketenangan dan makna yang ditawarkan melalui harmoni gamelan.
"Mereka tidak hanya belajar musiknya, tapi sampai ke filosofi. Seperti ada kerinduan terhadap nilai-nilai itu,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi ironi sekaligus refleksi bagi masyarakat Indonesia. Saat dunia luar semakin mengapresiasi karawitan sebagai warisan budaya, perhatian di dalam negeri belum sepenuhnya sebanding.
Meski demikian, Widodo optimistis karawitan tidak akan punah. Ia menekankan pentingnya regenerasi melalui generasi muda serta adaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi dan media sosial.
“Nilainya yang harus dijaga. Bentuk bisa berkembang, tapi esensinya tetap,” pungkasnya.
Bagi Prof. Dr. Widodo, M.Sn., karawitan Jawa bukan sekadar seni musik tradisional, melainkan representasi nilai budaya yang menekankan prinsip keselarasan dalam kehidupan.
Sebagai Guru Besar Unnes, ia menempatkan karawitan sebagai ilmu yang dapat dikaji, dikembangkan, dan diajarkan secara sistematis.
Kepakarannya diwujudkan melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek teknik, estetika, dan nilai budaya dalam proses pembelajaran, sehingga mahasiswa tidak hanya mampu memainkan, tetapi juga memahami makna di balik setiap komposisi.
Dari kajian tersebut, ia mengembangkan inovasi melalui rekonstruksi laras dan model garap gending yang melahirkan pendekatan baru dalam pengembangan karawitan tanpa meninggalkan akar tradisi.
Inovasi tersebut telah menghasilkan puluhan karya gending, dengan 28 di antaranya tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang dimanfaatkan sebagai karya artistik sekaligus media pembelajaran.
Kiprahnya juga melampaui tingkat nasional melalui perannya dalam memperkenalkan gamelan di berbagai institusi internasional, seperti University of Michigan, University of California Los Angeles (UCLA), hingga Paris, yang menjadikan karawitan sebagai bagian dari dialog budaya global.
Selain aktif sebagai akademisi, ia juga berkontribusi sebagai praktisi dan organisator seni melalui berbagai peran strategis, di antaranya sebagai Ketua Harian Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Jawa Tengah dan Sekretaris Jenderal Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI) Pusat.
Melalui riset, karya, dan pengabdiannya, Prof. Widodo terus mendorong pelestarian sekaligus pengembangan karawitan Jawa sebagai identitas budaya bangsa yang adaptif dan relevan di tingkat global.
Dalam pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Prof. Wuryanto, Kampus Sekarang itu, selain Prof Widodo, guru besar lain yang dikukuhkan di antaranya Prof. Dr. Taufiq Hidayah, M.Kes (bidang Pedagogi Olahraga), Prof. Dr. Sigit Priatmoko, M.Si (bidang Ilmu Fisika), serta Prof. Dr. Rina Supriatnaningsih, M.Pd (bidang Bahasa dan Sastra). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251217_ukmkarawitanusm.jpg)