Senin, 4 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Media Konseling Digital Jadi Solusi Kesehatan Mental Remaja di Era Ketidakpastian Global

Media konseling digital bantu remaja hadapi stres global, dari konflik hingga krisis, dengan akses layanan mental yang lebih mudah dan fleksibel.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Yanuar Putra Wibawa, Mahasiswa Prodi BKI Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto 

Oleh: Yanuar Putra Wibawa, Mahasiswa Prodi BKI Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto

DI ERA globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap berbagai dinamika perubahan global, termasuk ketidakpastian geopolitik. 

Konflik internasional, krisis ekonomi global, perubahan iklim, hingga ketegangan politik antarnegara kini tidak lagi menjadi isu yang jauh, melainkan hadir secara langsung melalui layar gawai yang setiap hari diakses oleh remaja. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap kesehatan mental mereka.

Data dari Mental Health of Adolescents: World Health Organization (WHO) tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 14 persen remaja di dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai penyebab utama beban penyakit pada kelompok usia tersebut. 

Selain itu, laporan dari The State of the World’s Children 2021: On My Mind- Promoting, protecting and caring for children’s mental health, UNICEF (2021) menyebutkan bahwa lebih dari 13 persen remaja usia 10–19 tahun hidup dengan kondisi gangguan mental yang terdiagnosis, sementara banyak kasus lainnya tidak terdeteksi akibat stigma sosial dan keterbatasan akses layanan kesehatan mental.

Data di Indonesia sendiri, menurut Kementerian Kesehatan, menunjukkan sebanyak 6,1 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental (2023). Remaja yang terpapar informasi global secara terus-menerus melalui media sosial cenderung mengalami fenomena information overload yang memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan mental (mental fatigue). 

Paparan berita konflik global, seperti perang, krisis energi, dan ketegangan politik internasional, dapat menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpastian terhadap masa depan. Dalam konteks psikologi perkembangan, remaja yang belum memiliki kematangan emosional yang stabil akan lebih mudah terpengaruh oleh narasi negatif tersebut.

Media digital dalam hal ini berfungsi sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, platform digital seperti media sosial sering kali memperburuk kondisi mental remaja melalui fenomena cyberbullying, social comparison, serta doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan. 

Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya tingkat kecemasan dan depresi pada remaja. 

Namun, di sisi lain, media digital juga memiliki potensi besar sebagai sarana intervensi kesehatan mental yang efektif jika dimanfaatkan secara tepat. Transformasi digital telah melahirkan berbagai inovasi dalam bidang konseling, salah satunya adalah media konseling digital.

Media konseling digital merupakan bentuk layanan konseling yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan dukungan kesehatan mental, baik melalui aplikasi, platform daring, maupun sistem berbasis kecerdasan buatan. 

Layanan ini mencakup konseling online melalui video call atau chat, aplikasi pelacakan suasana hati (mood tracker), program terapi berbasis digital, hingga komunitas dukungan sebaya (peer support). 

Keunggulan utama dari media ini adalah aksesibilitas yang tinggi, fleksibilitas waktu, serta anonimitas yang memberikan rasa aman bagi remaja untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa takut dihakimi. Hal ini menjadi sangat penting mengingat stigma terhadap isu kesehatan mental masih cukup tinggi di masyarakat Indonesia.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Medical (2025) yang berjudul: Digital Mental Health Interventions for Adolescents and Young People: Evaluating Efficacy and Accessibility, menyatakan bahwa intervensi kesehatan mental berbasis digital, Digital CBT (dCBT), dapat menurunkan gejala depresi dan kecemasan pada remaja hingga 30–40 % , terutama ketika dikombinasikan dengan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Penelitian dari Internet Interventions (2025) tentang Digital interventions in mental health: An overview and future perspectives menunjukkan bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan layanan kesehatan digital (e-health) yang mentransformasi sistem perawatan kesehatan mental secara global. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved