Jumat, 22 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Telkom University Purwokerto

Mahasiswa Telkom Purwokerto juara Innovillage 2025 lewat pengayak gula kelapa surya

Mahasiswa Telkom University Purwokerto kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Oyak Ayak berhasil meraih Juara 1

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Mahasiswa Telkom University Purwokerto kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Oyak Ayak berhasil meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Innovillage 2025 kategori Dampak Sosial Berkelanjutan UMKM dan Pemberdayaan Perempuan (SDG 5 & 8).Penghargaan tersebut diberikan dalam acara penganugerahan Innovillage 2025 yang digelar di Bandung pada Rabu (21/5/2026) 

TRIBUNJATENG.COM, BANDUNG -  Mahasiswa Telkom University Purwokerto kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional.

Tim Oyak Ayak berhasil meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Innovillage 2025 kategori Dampak Sosial Berkelanjutan UMKM dan Pemberdayaan Perempuan (SDG 5 & 8).

Penghargaan tersebut diberikan dalam acara penganugerahan Innovillage 2025 yang digelar di Bandung pada Rabu (21/5/2026).

Innovillage sendiri merupakan program kompetisi inovasi sosial yang diinisiasi Telkom Indonesia untuk mendorong mahasiswa di seluruh Indonesia menciptakan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat.

Program ini berfokus pada pengembangan inovasi yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat desa.

Tim tersebut diketuai Farhat Huda dari Program Studi Teknik Industri dengan anggota Rahmawati Khoirunnisa dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Muhammad Rafiq Al-fatiy dari Teknik Industri.

Dalam kompetisi tersebut, mereka didampingi dosen pembimbing Aiza Yudha Pratama, S.T., M.Sc.

Pada ajang tersebut, Tim Oyak Ayak menghadirkan inovasi bernama SOLVIA atau Mesin Pengayak Gula Kelapa Otomatis Terintegrasi Panel Surya dan Internet of Things (IoT).

Farhat Huda mengatakan inovasi tersebut lahir setelah tim melihat kondisi para ibu pengolah gula kelapa di Desa Pernasidi yang masih melakukan proses pengayakan secara manual.

“Para ibu harus menghabiskan waktu hingga dua sampai empat jam setiap hari hanya untuk mengayak gula kelapa dengan posisi kerja yang tidak ergonomis,” ujar Farhat.

Menurutnya, SOLVIA dirancang sebagai solusi mekanisasi pascapanen yang mampu memangkas waktu proses dari satu hingga dua jam menjadi hanya tujuh sampai sepuluh menit untuk kapasitas 10 kilogram gula kelapa.

Mesin tersebut menggunakan energi surya sehingga tetap dapat beroperasi di rumah warga dengan keterbatasan daya listrik.

Selain itu, SOLVIA juga dilengkapi sistem IoT yang terhubung dengan database CocoBase untuk mencatat hasil produksi secara otomatis dan transparan.

Farhat menjelaskan fokus tim terhadap pemberdayaan perempuan muncul karena sebagian besar proses pengolahan gula kelapa dilakukan oleh ibu rumah tangga.

“Lebih dari 88 persen proses pengolahan pascapanen gula kelapa dilakukan perempuan. Bahkan lebih dari 70 persen pekerja mengalami nyeri punggung kronis akibat proses manual,” katanya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved