UIN Walisongo Semarang
Nabih Dua Kali Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Konsistensi Dan Diskusi Tafsir
Sosok tenang dan konsisten melekat pada M. Nabih Z. A., wisudawan terbaik Program Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Ia menemukan bahwa syarat menghadirkan empat saksi dalam tuduhan zina bukan semata ketentuan hukum yang kaku, tetapi merepresentasikan prinsip kehati-hatian yang sangat tinggi dalam menjaga kehormatan seseorang.
“Intinya, ayat tersebut menekankan perlindungan martabat manusia agar seseorang tidak mudah dituduh tanpa bukti yang kuat,” jelasnya.
Penelitian ini juga menjadi contoh penerapan visi Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences) di UIN Walisongo.
Dalam tesisnya, Nabih mempertemukan studi tafsir Al-Qur’an dengan hukum positif Indonesia, khususnya terkait perlindungan kehormatan individu, asas praduga tak bersalah, dan etika komunikasi di era digital.
Meski tidak aktif dalam organisasi formal saat menempuh S2, Nabih justru menemukan ruang intelektual yang membentuk perjalanan akademiknya melalui forum mahasiswa bernama Lingkar Diskusi Bayyana.
Forum tersebut menjadi tempat mahasiswa berdiskusi mengenai buku, teori, metodologi tafsir, hingga isu-isu kontemporer dalam studi Al-Qur’an.
“Tradisi intelektual tidak hanya dibangun di ruang kelas formal, tetapi juga tumbuh dari budaya diskusi yang kritis dan dialogis,” katanya.
Di forum itu, Nabih merasa belajar banyak tentang pentingnya membuka perspektif, mempertajam analisis, dan membangun budaya akademik bersama rekan mahasiswa.
Di balik keberhasilannya, Nabih tidak melupakan peran keluarga sebagai sumber dukungan utama. Orang pertama yang menerima kabar keberhasilannya adalah keluarga, yang menurutnya selalu menjadi sumber doa dan motivasi sejak awal.
Ia juga menyebut dua figur penting dalam hidupnya, yakni pamannya, Dr. K.H. Chariri Shofa, M.Ag., sebagai role model keilmuan, serta ayahnya, Prof. Dr. M. Mudhofi, M.Ag., yang menjadi motivator utama dalam membangun integritas dan kecintaan terhadap pendidikan.
Tak hanya itu, Nabih juga mengapresiasi dukungan calon pendampingnya, Leni Nur Azizah, yang menurutnya turut memberi semangat dan kepercayaan diri selama menjalani proses akademik.
Selepas menyelesaikan studi magister, Nabih menargetkan langkah berikutnya: melanjutkan pendidikan doktoral apabila mendapat kesempatan beasiswa, termasuk melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
Namun, jika kesempatan studi belum datang, ia ingin terlebih dahulu mengembangkan pengalaman mengajar di perguruan tinggi, khususnya pada bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
“Pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang bagaimana ilmu itu dijaga, dikembangkan, dan memberi manfaat,” ujarnya.
Kepada mahasiswa UIN Walisongo, Nabih berpesan agar tidak takut memiliki target besar dan tetap konsisten menjalani proses.
“Pencapaian akademik yang baik bukan hanya soal kecerdasan, tetapi soal disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang setiap hari,” pesannya.
Bagi Nabih, predikat wisudawan terbaik bukanlah garis akhir, melainkan pengingat bahwa ilmu harus diiringi tanggung jawab moral untuk terus belajar, menjaga integritas, dan memberi kebermanfaatan bagi masyarakat.(***)
| Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional |
|
|---|
| Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo |
|
|---|
| Aisyah, Sarjana Pertama Keluarga Raih Wisudawan Terbaik Lewat Psikologi dan Publikasi |
|
|---|
| Amelia Kenang Perjuangan Kuliah sambil Kerja hingga Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo |
|
|---|
| Rektor UIN Walisongo Dorong Internasionalisasi, Beasiswa, Dan Prodi Baru Menuju WCU |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260628_uinws95835788.jpg)