UIN Walisongo Semarang
Laya Lia, Anak Petani Lereng Gunung, Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Riset Adas
Di balik toga dan senyum bahagia prosesi Wisuda Periode Mei 2026, ada kisah tentang ketekunan, kesederhanaan
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Ada masa ketika kelelahan fisik dan mental membuatnya ingin menyerah. Namun setiap kali itu datang, Lia kembali mengingat perjuangan orang tua dan tujuan awalnya.
“Saya selalu ingat bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya,” katanya.
Dari pengalaman itulah ia belajar bahwa rasa takut bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh.
Jika bisa kembali ke masa mahasiswa baru, pesan pertama yang ingin ia katakan pada dirinya sendiri sederhana tetapi penuh makna: tidak apa-apa merasa takut.
“Yang penting terus belajar, terus mencoba, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri,” ujarnya.
Membawa Ilmu sebagai Amanah
Sebagai mahasiswa Biologi di kampus yang mengusung konsep Unity of Sciences, Lia mengaku belajar melihat ilmu pengetahuan dan nilai spiritual sebagai dua hal yang saling melengkapi.
Baginya, ilmu bukan sekadar alat akademik, tetapi amanah yang harus membawa manfaat.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, harus semakin besar juga kontribusinya bagi masyarakat,” katanya.
Kini, setelah menyelesaikan studi sarjana, Lia berencana bekerja terlebih dahulu sambil mempersiapkan diri melanjutkan studi magister dan mencari peluang beasiswa.
Kepada adik tingkat di UIN Walisongo Semarang, Lia menitipkan pesan sederhana namun kuat: jangan takut bermimpi besar dan jangan takut gagal.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupa bertumbuh menjadi manusia yang rendah hati dan peduli sekitar,” pesannya.
Kisah Laya Lia Rian Afriani menunjukkan bahwa wisudawan terbaik tidak selalu lahir dari ambisi besar sejak awal.
Kadang, ia tumbuh dari anak petani sederhana yang tekun belajar, berani menghadapi rasa takut, dan percaya bahwa ilmu harus membawa manfaat yang lebih luas daripada sekadar angka di lembar transkrip.(***)
| Anggita Bangkit Dari Perjuangan Jadi Wisudawan Terbaik Magister KPI Sambil Menjaga Budaya |
|
|---|
| Nabih Dua Kali Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Konsistensi Dan Diskusi Tafsir |
|
|---|
| Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional |
|
|---|
| Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo |
|
|---|
| Aisyah, Sarjana Pertama Keluarga Raih Wisudawan Terbaik Lewat Psikologi dan Publikasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260528_uinwss5847.jpg)