Kalau perguruan tinggi dituntut relevan dengan masa depan, pendidikan dasar juga harus dibebaskan dari beban yang tidak perlu. Kalau prodi diminta berubah, guru juga harus diperkuat. Kalau kampus diminta berinovasi, riset harus dibiayai dengan benar. Kalau negara bicara AI, negara juga harus memastikan anak-anak Indonesia bisa membaca, bernalar, bertanya, dan membangun imajinasi.
Tanpa itu semua, penutupan prodi hanya akan menjadi kosmetik kebijakan. Terlihat tegas di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Hari ini prodi ditutup. Besok nama prodi diganti. Lusa brosur kampus diperbarui. Tetapi substansi pembelajaran tetap sama: miskin nalar, miskin riset, miskin keberanian berpikir.
Tiongkok menutup prodi karena sedang merancang masa depan. Indonesia jangan menutup prodi hanya karena takut ketinggalan tren. Sebab yang paling berbahaya bukan prodi usang. Yang paling berbahaya adalah negara yang terlihat sibuk membenahi pendidikan, tetapi sebenarnya hanya sedang menutup mata terhadap kerusakan fondasinya sendiri. (***)