UIN SAIZU Purwokerto
Tahun Baru Hijriyah dan Kesadaran Memaknai Waktu
Rektor UIN Saizu mengajak masyarakat memaknai Tahun Baru 1448 Hijriah sebagai momentum refleksi diri dan pengelolaan waktu.
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Prof Dr H Ridwan MAg, Rektor UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto
DALAM lintasan sejarah, penghitungan tahun baru atau penanggalan Islam dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Kedua yaitu Khalifah Umar ibn Khattab.
Ketika para sahabat bermusyawarah untuk merumuskan penanggalan Islam, maka yang muncul adalah persoalan perbedaan pandangan di kalangan sahabat mengenai dari mana penghitungan penanggalan Islam itu dimulai.
Paling tidak ada tiga pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa penghitungan Tahun Baru Islam dimulai dari hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pendapat kedua menyatakan bahwa penghitungan Tahun Baru Islam dimulai dari hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pendapat ketiga menyatakan bahwa penghitungan Tahun Baru Islam dimulai dari hari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Pendapat pertama dan kedua ditolak dengan alasan bahwa ketika Nabi Muhammad lahir, beliau belum bisa apa-apa dan belum diangkat sebagai Nabi dan Rasul.
Sedangkan jika hari kematian Nabi dijadikan sebagai tonggak awal penghitungan tahun Islam, maka peristiwa wafatnya Nabi menandai selesainya perjuangan Nabi dan terhentinya al-Qur’an dan as-Sunnah.
Setelah para sahabat bermusyawarah lebih intens, maka diputuskan bahwa tonggak awal penghitungan tahun kalender Islam dihitung dari peristiwa hijrahnya Nabi. Pemilihan peristiwa hijrah sebagai tonggak awal penanggalan Islam didasarkan pada bahwa peristiwa hijrah merupakan titik awal kebangkitan dan kejayaan Islam.
Peristiwa hijrah juga menandai upaya kerja keras atau etos kerja untuk membangun peradaban Islam. Esensi dari hijrah adalah spirit manusia untuk menjadi pribadi yang progresif yang terus menerus berusaha mendapatkan pencapaian kualitas hidup.
Peristiwa pergantian tahun adalah siklus kehidupan. Pergantian tahun merupakan penanda penambahan usia seseorang. Penambahan jumlah usia bagi kita mansuia secara matematis hakikatnya adalah pengurangan kesempatan hidup yang telah ditaqdirkan oleh Allah SWT kepada setiap manusia.
Dengan memaknai pergantian tahun seperti ini akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara dan ada batasnya.
Seringkali pandangan manusia tertipu oleh perputaran waktu ditandai dengan pergantian hari, bulan atau tahun.
Oleh karena itu konsep waktu yang kita pahami seakan bergerak memutar terus menerus. Padahal, secara substantive waktu bergerak secara linear dan progresif. Setiap waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali terulang dalam perjalanan hidup manusia.
Dalam al-Qur’an banyak sekali disinggung mengenai arti penting dari waktu. Kemampuan seseorang mengelola dan menggunakan waktu adalah kunci kesuksesan hidup seseorang.
Dalam al-Qur’an Surat Al-Hasyr, Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan lihatlah setiap jiwa apa-apa yang telah dilakukan pada waktu kemarin untuk waktu yang akan datang.”
Ayat ini menyiratkan pesan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola waktu merupakan salah satu indikator ketaqwaan seseorang. Dari ayat ini juga memberikan informasi tentang pembagian waktu itu ada tiga yaitu waktu lampau, sekarang dan waktu yang akan datang.
| Mahasiswa BKI UIN Saizu Raih Juara III Esai Nasional PANDIKNAS 2026 Bahas Algoritma Medsos |
|
|---|
| SEMA Syariah UIN Saizu Gelar Bootcamp Parlemen di DPRD Banyumas, Cetak Generasi Kritis |
|
|---|
| Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Saizu Raih Juara 3 Poster Digital Islami Tingkat Jateng |
|
|---|
| Hasil Seleksi Pascasarjana UIN Saizu 2026 Diumumkan, Registrasi Online Dibuka hingga 22 Juni |
|
|---|
| Pendaftaran Jalur Mandiri Sertifikat UTBK dan SNBT 2026 di UIN Saizu Purwokerto Resmi Diperpanjang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260615-rektor-uinsaizu.jpg)