Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2026

Kisah Warga Semarang Berburu Uang Baru Secara Online, Menunggu Empat Jam demi Jadwal Penukaran

Perburuan uang pecahan baru menjelang Lebaran di Kota Semarang kini tak lagi sekadar antre di bank.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
ILUSTRASI - Uang Pecahan baru milik jasa penukaran uang di kawasan Jalan Pahlawan Semarang/TRIBUNJATENG/REZANDA AKBAR D. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Perburuan uang pecahan baru menjelang Lebaran di Kota Semarang kini tak lagi sekadar antre di bank.


Sistem penukaran daring yang disediakan Bank Indonesia pada website www.pintar.bi.go.id membuat masyarakat harus bersaing di ruang tunggu digital.


Dewa, warga Kecamatan Gajahmungkur, menjadi salah satu yang merasakan panjangnya antrean tersebut. 


Ia mencoba mengakses sistem penukaran uang pada hari pertama pembukaan layanan.


Menurutnya, layanan penukaran uang dibuka sekitar pukul 08.00. Namun ia baru mencoba masuk sekitar pukul 10.00 karena terlambat bangun.


“Saya masuk sekitar jam 10 siang. Langsung pakai dua gadget, hape sama komputer,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Minggu (8/3/2026).


Upaya melalui ponsel justru tidak berjalan lancar. Ia menyebut sistem di ponsel cukup sensitif terhadap perubahan jaringan.

Baca juga: TNI Siaga 1 Antisipasi Konflik Iran, Panglima Perintahkan Pangkotamaops, Kohanudnas hingga Bais


“Kalau pakai hape harus terus dibuka. Kalau ditutup, pindah wifi, atau koneksi jelek, langsung refresh otomatis. Akhirnya malah reset lagi di waiting room,” katanya.


Berbeda dengan komputer yang ia gunakan secara bersamaan. Perangkat tersebut tetap berada di ruang tunggu sejak pukul 10.00.


Meski sistem sempat menampilkan estimasi waktu tunggu sekitar 15 menit, kenyataannya ia baru bisa masuk ke halaman pemilihan lokasi penukaran sekitar pukul 14.00.


“Padahal di layar tertulis waiting room cuma 15 menit, tapi faktanya saya nunggu sampai empat jam,” ujarnya.


Dewa juga mengaku sempat kebingungan dengan estimasi waktu yang berubah-ubah di layar.


Menurutnya, hitungan waktu antrean sering naik turun.


“Kadang sudah tinggal tujuh menit lagi, tiba-tiba balik lagi jadi sepuluh menit,” katanya.


Ia menilai sistem antrean tersebut masih perlu diperbaiki agar lebih transparan bagi masyarakat.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved